"Sebelum ada wajah Ganjar, kan banyak juga wajah-wajah orang lain dalam siaran tersebut. Dalam konteks tersebut, Ganjar, kan, orang biasa, tidak ada bedanya dengan wajah-wajah umat lainnya yang tampil pada azan tersebut. Ajakan Ganjar maupun semua yang pernah tampil di azan itu adalah sesuatu yang baik," ujar Emrus.
Baca: Ganjar Muncul dalam Siaran Azan, Pakar: Tak Melanggar, Saya Bingung di Mana Letak Kontroversinya
Iwel Sastra, peneliti dan pengajar komunikasi pada London School of Public Relations, turut mengungkapkan pendapat serupa.
Dia menyebut tak ada pelanggaran dalam siaran azan itu.
"Agak susah mencari-cari alasan meributkan siaran azan tersebut. Pasal mana ya pada Undang-Undang Penyiaran yang dilanggar?" ujar Iwel.
Sementara itu, Effendi Gazali yang menjadi peneliti komunikasi politik pada Institut Salemba School mengatakan wajar apabila kemunculan Ganjar itu menjadi diskusi publik.
"Tentu saja isu tersebut boleh-boleh saja menggelinding jadi diskusi publik. Apalagi kalau mau ditiru, kesannya jadi tidak kreatif. Di sisi peraturan, pasti tak ada aspek apa pun yang dilanggar. Ajakannya juga ke arah yang positif," kata Effendi.
Menurut dia, akan lebih baik apabila siaran azan juga memperlihatkan tokoh nasional lainnya.
"Kalau kemudian mau lebih mengayomi, bisa juga dibuat variasi azan dengan beberapa wajah tokoh nasional kita. Jadi terkesan tidak hanya satu figur," katanya.
Baca: Respon PDIP Soal Ganjar Muncul di Tayangan Azan Magrib: Bukan Politik Identitas, Dia Sosok Religius
Hasrullah, ahli komunikasi Universitas Hasanuddin, memliki pendapat yang mirip dengan Effendi.
"Bisa saja segera ditambahkan wajah para ulama lain. Misal wajah Tuan Guru Bajang, atau beberapa wajah lain dari Kawasan Timur Indonesia. Sehingga lanskapnya lengkap dari seluruh Indonesia," kata Hasrullah.
Dia ingin para tokoh nasional membuat cara-cara berkomunikasi yang kreatif daripada meributkan hal yang mengajak bertindak positif.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Ganjar Pranowo di sini.