TRIBUNNEWSWIKI.COM - Elektabilitas Anies Baswedan sebagai bakal capres yang diusung oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) tertinggal jauh di belakang Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
Sebagai contoh, menurut hasil survei Indikator Politik Indonesia (IPI) yang dilakukan tanggal 20—24 Juni 2023, Anies hanya memiliki elektabilitas 17,6 persen.
Di sisi lain, Prabowo yang diusung oleh Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) memiliki elektabilitas 31,6 persen. Di belakangnya ada Ganjar yang diusung oleh PDIP dengan elektabilitas 31,4 persen.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menduga elektabilitas Anies yang berada di bawah Prabowo dan Ganjar disebabkan oleh belum terlihatnya suara pemilih Partai Nasdem dan Partai Demokrat sebagai partai pengusungnya.
"Artinya, bisa saja pemilih Nasdem, Demokrat belum mengemukakan pendapat akan memilih Anies, ini menjadi alternatif asumsi mengapa Anies terkesan stagnan," ujar Dedi, Senin, (24/7/2023), dikutip dari Kompas.com.
Baca: PAN Sebut jika Ganjar atau Prabowo Ingin Menang, Jadikan Erick Thohir Cawapres
Baca: Tiba di Bandara Sepulang Haji, Anies Baswedan Peluk AHY, Relawan Berteriak RI-1
Dedi mengatakan satu-satunya partai yang mempunyai basis massa pemilih untuk Anies hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Akan tetapi, berbeda dengan partai lain, PKS termasuk susah diterka elektabilitasnya.
"PKS dalam banyak kontestasi antara hasil pemilihan dan survei banyak berbeda, misalnya suara di DKI dan Jabar, suara PKS jarang bisa ditangkap oleh survei," kata dia menjelaskan.
Dedi berpendapat bahwa Anies didukung didukung sejumlah partai yang tidak mempunyai basis massa loyal kecuali PKS. Anies berbanding terbalik dengan dua bakal capres lainnya, Prabowo dan Ganjar, yang didukung oleh partai besar.
"Ganjar dan Prabowo sudah didukung oleh partai mayoritas, sehingga pemilih partai yang loyal bisa diarahkan secara langsung," ujarnya.
Baca: Bawa Anies Safari Politik, Sekjen Nasdem Ngaku Selalu Diganggu Tangan Tak Terlihat
Dedi meyakini Anies saat ini masih dalam situasi membangun elektabilitas personal tanpa dukungan basis pemilih partai yang loyal. Namun, menurut dia, Anies masih punya peluang untuk menyalip Prabowo dan Ganjar lantaran elektabilitas capres saat ini masih dinamis.
"Belum dapat disimpulkan jika ada yang stagnan atau yang lain membaik, tiga tokoh potensial itu pun demikian masih miliki peluang saling salip," ujar Dedi.
Penyebab turunnya elektabilitas Anies menurut Demokrat
Partai Demokrat curiga rendahnya elektabilitas Anies disebabkan oleh sosok bakal cawapres pendamping Anies yang tak kunjung diumumkan
"Memang ada kecenderungan menurun dari survei Indikator karena mungkin, dugaan kami, hipotesa kami adalah lambannya proses deklarasi," ujar Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat, Andi Arief, Senin (5/6/2023), dikutip dari Kompas.com.
Andi mendesak Anies untuk segera mengumumkan cawapresnya. Dia mengatakan Demokrat telah mengusulkan agar cawapres diumumkan setidaknya pada Juni 2023.
Baca: Tiru Kata-kata Jokowi, Anies Baswedan soal Renovasi JIS: Saya Enggak Cawe-cawe
Pengumuman itu dipercaya bisa mampu mengerek elektabilitas Anies yang kini berjarak jauh dari para pesaingnya.
"Kalau jarak (elektabilitas) sudah cukup menganga, itu pasangannya juga akan berat," kata Andi.
Menurut Andi, setelah cawapres diumumkan, basis pemilih Anies akan bergerak bersama demi memenangkan Anies yang diusung oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan itu.
Elektabilitas ketiga bakal capres
Berikut elektabilitas Anies, Ganjar, dan Prabowo berdasarkan survei Indikator Politik sejak Juli 2022: