Indah mengungkap bahwa tak ada satu pun keluarganya yang terjun di dunia politik.
Saat mencalonkan pun Indah merasa sadar diri, bahwa belum banyak masyarakat mengenal dirinya.
Oleh karena itu ia pun sempat berjuang memperkenalkan diri sebagai calon kades kala itu dengan datang door to door ke rumah-rumah warga.
Indah mengungkap saat itu dirinya bersaing dengan 3 calon kades.
Di antaranya adalah mantan kades 2 periode, kades petahana dan mantan pegawai desa.
Melihat pesaingnya sudah berpengalaman sebagai aparat desa, Indah saat itu merasa berkecil hati.
Namun, niat baiknya terus meluruskan tekadnya agar bisa memajukan desanya sendiri.
Indah pun menyinggung kehadirannya saat itu ia anggap sebagai warna baru.
Sebab, Indah tak memungkiri selama ini pemilihan aparat di wilayahnya dikenal dengan manipolitik.
Oleh karena itu, ia ingin mendobrak paradigma tersebut agar politik di wilayahnya berlangsung sehat.
“Saya mencoba merubah paradigma itu, bahwa kalau memlih itu jangan asal siapa yang mau kasih uang, tapi memberikan dedikasi dan edukasi kepada warga,”
“Kalau dikasih uang sekarang jangan marah kalau ke depannya bisa terjadi korupsi dan lain-lain, karena pasti dia memikirkan bagaimana caranya untuk balik modal,” paparnya.
Bukan saja menyadarkan warga soal pemilihan, lewat kesempatan itulah Indah juga sekaligus memberikan edukasi dan memperkenalkan dirinya.
Demikian, dengan latar belakang dan pengalamannya terjun ke desa-desa terpencil dan perjuangan itulah kini ia berhasil menjadi kades.
Namun, setelah menjabat sebagao kades, perjuangan Indah sebenarnya masih permulaan.
Indah menceritakan posisinya sebagai kades muda kerap kali diremehkan.
Alumni mahasiswa UI itu menceritakan selama bekerja sebagai kades, ia merasa miris karena kerap kali tak dikenali warganya.
“Sering banget (diremehkan), aduh bahkan kalau beberapa orang datang ke kantor desa, mereka gak tahu kepada desanya yang mana,” ungkap Indah.
Indah menceritakan pengalaman saat dirinya terjun ke lapangan beberapa warga menanyakan kepadanya keberadaan kades, padahal warga tersebut sedang berbicara dengan kadesnya sendiri.