Persatuan itu tidak mengenal asal negara, bangsa, suku, etnis, golongan, organisasi, atau bahkan madzhab.
Pengikut madzhab yang berbeda-beda pada saat menjalankan ibadah haji, mereka melakukan kegiatan ritual yang sama, simbol-simbol atau lambang yang sama, dan bahkan doa-doa yang dibaca pun juga sama.
Umat Islam benar-benar menjadi bersatu dan bersama-sama dalam menjalankan rukun Islam yang ke lima itu.
Maka umpama saja, pelajaran dari pelaksanaan haji itu ditangkap sepenuhnya, maka tidak ada alasan umat Islam bercerai berai hanya atas dasar alasan berbeda bangsa, suku, golongan, ataupun juga madzhab yang diikuti.
Tatkala sedang dalam ibadah haji mereka bisa bersatu dan bersama-sama, maka setelah pulang ke negerinya masing-masing pelajaran itu seharusnya masih diingat dan dilaksanakan.
Sebaliknya, pelajaran itu bukan hanya berlaku di dalam kelas, ialah ketika di waktu haji.
Setelah keluar dari ruang kelas, mereka berbeda dan menganggap pandangannya yang paling benar dan apalagi yang lain dianggapnya sebagai saingan atau musuh.
Tentu tidak begitu, semoga ibadah haji benar-benar berhasil menyatukan umat Islam dan mabrur semuanya.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dipadang Arafah merupakan awal munculnya ummat manusia di muka bumi ini, dan sekaligus sebagai awal persatuan ummat manusia seluruh dunia.
(TRIBUNNEWSWIKI)