Adapun dari pihak sekolah, sudah ada tiga orang yang diperiksa.
Baca: Terungkap Motif Pelaku Pembunuhan Mayat Dicor di Semarang: Sakit Hati Dapat Kekerasan dari Korban
Baca: Korban Pelecehan Seksual Guru Taekwondo di Solo jadi 10 Orang, Diduga Sudah Beraksi Sejak 2020
Sebelumnya, dari keluarga sudah diperiksa 3 orang.
Selain dari enam saksi-saksi, pihaknya juga mencari keterangan dan mencarbukti pendukung sekaligus meminta hasil visum dari rumah sakit.
Dari pemèriksaan saksi dari pihak keluarga dan pihak sekolah, penyidik belum bisa memastikan dugaan pengeroyokan yang menyebabkan MHD meninggal.
Bukan kali pertama
Ternyata, peristiwa pengeroyokan ini merupakan yang kedua kalinya.
Peristiwa yang pertama dan kedua ini terjadi di hari yang berurutan.
Pada hari pertama, korban sempat mengelurharas sakitnya ke sang kakek.
Lalu, MY menyuruhnya untuk berisitirahat di rumah.
Tetapi hal itu ditolak oleh korban dan tetappergi ke sekolah.
"Saya bilang, kalo sakit jangan dulu sekolah, istirahat dulu aja di rumah. Namun saat itu korban memaksa ingin sekolah. Lalu ketika saat berada di sekolah, korban kembali dikeroyok oleh kakak kelasnya pada Selasa (16/5/2023)," ujarnya.
Korban pun meninggal dunia setelah dilakukan perawatan medis selama 3 hari.
Bahkan, ia juga mengaku bahwa korban mendapatkan luka itu karena dikeroyok oleh seniornya.
"Akhirnya dokter pura-pura menyuruh keluarga untuk keluar ruangan, dan pihak keluarga bersembunyi di balik tirai di ruangan periksa. Dari situ korban baru mangakui bahwa dirinya sudah dikeroyok oleh 3 orang kakak kelasnya," tuturnya.
"Korban yang kritis 3 hari di rumah sakit, lalu pada hari pukul 08.00 WIB, meninggal di RS Hermina," ucapnya.
Ditubuh korban, juga ditemukan beberapa luka.
Korban mengalami keretakan tulang di beberapa bagian tubuhnya.
Bahkan, korban juga mengalami luka dalam.
"Hasil visum korban mengalami luka pecah pembuluh darah, dada retak dan tulang punggung retak," tutup kakek korban.
Lalu, Empat pelaku itu masih berada di bangku kelas 5 SD, kelas 4 SD, bahkan kelas 2 SD.