TRIBUNNEWSWIKI.COM - Elon Musk, Steve Wozniak, dan sejumlah tokoh terkenal di dunia teknologi meminta perlombaan teknologi kecerdasaan buatan (AI) ditangguhkan.
Permintaan itu keluar setelah dirilisnya GPT-4, penerus chatbot ChatGPT milik OpenAI, perusahaan rintisan asal Amerika Serikat (AS). Para raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google juga berlomba-lomba mengembangkan aplikasi serupa.
Akan tetapi, dalam petisi yang dikeluarkan pada hari Rabu, (29/3/2023), Musk dkk. meminta pengembangan itu dihentikan selama 6 bulan waktu karena berisiko.
Petisi itu menyebutkan bahwa sistem kecerdasan buatan yang memiliki "kecerdasan kompetitif manusia bisa memunculkan risiko besar bagi masyarakat dan kemanusiaan". Risiko itu di antaranya disinformasi yang membanjiri dunia maya.
Disebutkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, di laboratorium AI terdapat pengembangan "pikiran digital" yang kuat dan tidak bisa diprediksi atau dikontrol oleh penciptanya.
Baca: Mengenal Aplikasi ChatGPT Buatan OpenAI yang Viral dan Kegunaannya
"Kami meminta semua laboratorium AI untuk segera menangguhkan, setidaknya 6 bulan, pelatihan sistem AI yang lebih kuat daripada GPT-4," demikian pernyataan dalam petisi itu, dikutip dari Associated Press.
"Jika penangguhan seperti itu tidak bisa cepat diberlakukan, pemerintah harus turun tangan dan mengadakan moratorium."
Sejumlah negara sudah mulai membuat regulasi mengenai teknologi kecerdasan buatan yang berisiko tinggi. Anggota dewan 27 negara Uni Eropa sudah membahas pengesahan UU tentang AI.
Baca: ChatGPT Plus Resmi Meluncur di Indonesia, Simak Biaya, Cara Berlangganan dan Fiturnya
Adapun petisi di atas diorganisir oleh Future of Life Institute. Pakar AI bernama Yoshua Bengio dan Sturart Russell serta Gary Marcus turut menandatangani petisi.
CEO Tesla dan Twitter, Elon Musk, sudah memperingatkan risiko di balik teknologi AI. Musk sendiri juga menjadi salah satu pendiri OpenAI.
OpenAI, Microsoft, dan Google belum buka suara untuk menanggapi petisi itu. Namun, sejumlah orang bersikap skeptis terhadap pertisi itu.
"Penangguhan itu ide yang bagus, tetapi petisi itu tidak jelas dan tidak menganggap serius masalah regulasi," kata James Grimmelmann, seroang profesor bidang hukum digital dan informasi di Universitas Cornell, AS.
"Hal itu juga amat munafik bagi Elon Musk yang menandatanganinya, mengingat betapa kerasnya Tesla menolak tanggung jawab atas kecacatan AI dalam mobil buatannya yang bisa self-driving."
Baca: Dulu Dibeli Rp668 T oleh Elon Musk, Kini Twitter Hanya Berharga Rp303 T
Sementara itu, Gary Marcus, seorang profesor emiritius di Universitas New York yang turut menandatangani petisi itu, tidak setuju dengan pihak yang khawatir bahwa dalam jangka waktu dekat teknologi kecerdasan buatan akan menjadi begitu pintar sehingga tidak bisa dikontrol manusia.
Dia justru khawatir akan adanya "AI yang biasa-biasa saja" yang digunakan oleh penjahat untuk menipu orang atu menyebarkan disinformasi.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Elon Musk di sini.