TRIBUNNEWSWIKI.COM - Boris Bondarev, mantan diplomat Rusia, menuding ancaman nuklir yang dikeluarkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin hanya gertakan saja.
Bondarev sebelumnya bekerja sebagai pakar pengendalian senjata dalam misi diplomatik Rusia di markas PBB. Namun, dia memutuskan mengundurkan diri setelah Rusia menginvasi Ukraina.
Dia menjadi satu-satunya diplomat Rusia yang meletakkan jabatannya karena kecewa dengan perang di Ukraina. Dalam surat pengunduran dirinya, dia mengklaim invasi Rusia bukan hanya kejahatan terhadap warga Ukraina, tetapi juga kejahatan terhadap warga Rusia.
Ketika diwawancarai oleh Newsweek, Bondarev mengungkapkan pendapatnya tentang gertak sambal Putin itu.
Pada bulan September 2022 Putin sempat berujar bahwa dia siap menggunakan senjata nuklir untuk mempertahankan wilayah Rusia.
Kemudian, pada hari Selasa lalu, (21/2/2023), Putin mengumumkan bahwa Rusia tak lagi mematuhi perjanjian New START. Perjanjian itu merupakan kesepakatan tentang pengendalian senjata nuklir.
Baca: Rusia Cari Penonton Bayaran untuk Putin, per Orang Dibayar Rp102 Ribu
Rusia dan Amerika Serikat (AS) telah menandatangai perpanjangan kesepakatan itu pada tahun 2021. Namun, AS belum melakukan penyelidikan atas senjata nuklir milik Rusia karena adanya pandemi.
Seharusnya penyelidikan kembali dilakukan pada bulan Agustus 2021. Akan tetapi, Rusia menolaknya dan menyinggung bantuan yang diberikan AS kepada Ukraina.
"Para elite Barat tidak menyembunyikan ambisi mereka, yakni mengalahkan Rusia secara strategis," kata Putin pada hari Selasa, dikutip dari United Press International.
Dalam beberapa pekan terakhir muncul kekhawatiran bahwa Rusia akan kembali mengeluarkan ancaman nuklir jika Ukraina ingin merebut Krimea yang dianeksasi Putin tahun 2014.
Baca: Mantan PM Inggris Johnson Mengaku Diancam Dibunuh Putin dengan Rudal
"Sekarang [Putin] menggertak dan kita tahu bahwa dia menggertak tentang ancaman nuklir. Ukraina mendapatkan kembali beberapa wilayahnya, dan tidak ada pembalasan dengan nuklir," kata Bondarev dikutip dari Newsweek.
"Jika kalian takut Putin bakal menggunakan nuklir, kalian sudah kalah perang melawannya dan dia menang."
"Karena dia menginginginkannya. Dia ingin kalian dipaksa atau dihalangi oleh ancamannya."
Menurut Bondarev, kemenangan Putin tidak hanya berdampak buruk bagi Ukraina, tetapi juga bagi Eropa dan AS.
"Jika Putin mengancam akan menggunakan nuklir, baiklah, ancam dia juga."
Ketua Dewan Sipil Krimea, Alexander Formanchuk, bulan lalu mengatakan bahwa perang nuklir global akan segera meletus jika muncul upaya untuk mengembalikan Krimea kepada Ukraina.
Sementara itu, pada bulan Agustus 2022, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah berjanji akan merebut kembali Krimea.
Baca: Zelenskiy: Rusia Kobarkan Perang agar Putin Bisa Berkuasa Seumur Hidup
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Vladimir Putin di sini.