Para pakar geologi dan teknik sebenarnya sudah lama memperingatkan hal itu.
"Ini adalah bencana yang disebabkan oleh konstruksi yang buruk, bukan disebabkan oleh gempa bumi," kata David Alexander, pakar perencanaan darurat di University College London, dikutip dari Associated Press, (12/2/2023).
Sementara itu, Eyup Muchu selaku Presiden Dewan Arsitek di Turki mengatakan ada banyak bangunan di area rawan gempa yang dibuat dengan material dan metode yang buruk. Bangunan itu sering kali tidak sesuai dengan standar pemerintah.
Kata dia, aparteman baru yang didirikan beberapa tahun belakangan juga tidak memenuhi standar. Padahal, standar pembangunan sudah ditetapkan hampir dekade sebelumnya.
"Bangunan di area ini lemah dan tidak kokoh, terlepas dari kenyataan adanya gempa," kata Muhcu.
Pakar mengklaim masalah itu diabaikan lantaran penangananya akan membutuhkan biaya besar, kurang disukari, dan menghambat pertumbuhan ekonomi negara itu.
Gempa yang terjadi pada hari Senin, (6/2/2023), pukul 04.17 itu bermagnitudo besar, yakni 7,8. Diperkirakan setidaknya ada 12.000 bangunan yang hancur.
Selain karena gempa terjadi pada subuh hari, menurut para pakar banyaknya korban tewas juga disebabkan oleh lemahnya penegakan standar pendirian bangunan tahan gempa.
Menterian Kehakiman Turki Bekir Bozdag mengatakan akan memeriksa bangunan yang runtuh. "Mereka yang mengabaikan, bersalah dan bertanggung jawab atas kehancuran karena gempa akan dibawa ke pengadilan," kata Bozdag hari Kamis, (9/2/2023).
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Febri/Kaa)