TRIBUNNEWSWIKI.COM - Para investor asal Tiongkok disebut memiliki tanah di Amerika Serikat (AS) yang luasnya setara dengan dua kali Kota New York.
Tiongkok juga dikabarkan berusaha membeli beberapa bidang tanah yang lokasinya dekat dengan pangkalan Angkatan Udara AS. Hal ini memicu kekhawatiran AS.
Menurut laporan Kementerian Pertanian AS (USDA) pada tahun 2021, ada 146 investor Tiongkok yang menguasai 383.935 hektare. Jumlah itu tak sampai 1 persen dari seluruh tanah yang dikuasai pihak asing yang total nilainya mencapai $2,1 miliar atau sekitar Rp31,8 triliun.
Persoalan kepemilikan tanah di AS oleh Tiongkok kembali mencuat dalam beberapa bari belakangan.
Andrew Hunter, pejabat Angkatan Udara AS, sempat mengirimkan surat kepada senator negara bagian North Dakota, John Hoeven.
Hunter meminta proposal dari Fufeng Group, perusahaan biomanufaktur asal Tiongkok, ditolak. Fufeng ingin membangun pabrik penggilingan jagung yang jaraknya hanya 12 mil dari Pangkalan Udara Grand Forks di North Dakota.
"Pendapat Angkatan Udara sudah jelas: proyek yang diusulkan itu memunculkan ancaman besar bagi keamanan nasional," kata Hunter dikutip dari Newsweek, (10/2/2023).
Baca: Muncul Balon Mata-Mata Tiongkok di AS, Menlu AS Batal Kunjungi Beijing
Hunter menegaskan bahwa pangkalan udara tersebut menjadi pusat aktivitas militer yang terkait dengan operasi udara dan luar angkasa.
Senator Hoeven dan Kevin Cramer kemudian menanggapinya.
"Kami meyakini bahwa kota itu harus menolak proyek Fufeng dan sebagi gantinya kami harus bekerja sama mencari perusahaan Amerika untuk mengembangkan proyek pertanian," kata Hoevn dan Cramer dalam surat yang dikeluarkan tanggal 31 Januari.
Baca: Militer AS Cari Sisa-Sisa Balon Mata-Mata Tiongkok yang Ditembak Jatuh
Surat itu memunculkan desakan agar rancangan undang-undang (RUU) yang melarang pembelian tanah AS di dekat instalasi militer disahkan.
Randy Feenstra, anggota parlemen AS yang mewakili Iowa, turut buka suara melalui Twitter.
"Tiongkok harus dilarang membali lahan pertanian di wilayah mana pun di negara kita, terutama di dekat pangkalan militer kita," kata Feenstra.
Dalam beberapa tahun belakangan sudah ada sejumlah RUU yang akan membatasi investasi asing di tanah AS. Namun, tak satu pun dari RUU itu disahkan.
Ketakutan akan tindakan spionase oleh Tiongkok kembali muncul setelah insiden balon milik Tiongkok yang terbang di atas langit South Carolina. AS menuding balon itu adalah balon mata-mata. Namun, Tiongkok membantahnya dan mengklaim balon itu ditujukan untuk keperluan penelitian cuaca.
Baca: Tiongkok Akui Balon yang Terbang di Amerika Selatan Adalah Miliknya
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Tiongkok di sini.