TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Kroasia Zoran Milanovic mengatakan Semenanjung Krimea tak akan pernah menjadi wilayah Ukraina lagi, (1/2/2023).
Hal itu disampaikan Milanovic ketika dia menjelaskan alasan Kroasia keberatan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina.
Pada bulan Desember 2022, DPR Kroasia menolak usulan Kroasia bergabung dengan Uni Eropa guna membantu militer Ukraina. Hal ini menujukkan adanya perpecahan antara Milanovic dan Perdana Menteri Andrej Plenkovic.
Milanovic dikenal sering mengkritik kebijakan Barat dalam persoalan Ukraina. Dia mengaku tak ingin negaranya menghadapi konsekunsi besar dalam krisis Ukraina. Kroasia sendiri adalah anggota termuda Uni Eropa.
Menurut Milanovic, apa yang sekarang dilakukan Barat terhadap Ukraina itu "sangat tidak bermoral karena tidak ada solusi (atas perang)". Di samping itu, dia meyakini kedatangan tank Jerman ke Ukraina hanya akan membuat Rusia makin dekat dengan Tiongkok.
"Sudah jelas bahwa Krimea tak akan pernah menjadi bagian Ukraina lagi," kata dia menegaskan, dikutip dari Reuters.
Baca: Baru Saja Terbakar, Jembatan Kerch Jadi Simbol Penyatuan Krimea dan Rusia
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah bersumpah akan merebut kembali Krimea. Krimea sendiri dianekasasi oleh Rusia tahun 2014. Namun, aneksasi itu tidak diakui oleh sebagian besar negara di dunia.
Rusia menyebut referendum yang digelar menunjukkan bahwa warga Krimea benar-benar ingin menjadi bagian dari Rusia. Referendum itu dilakukan setelah pasukan Rusia menduduki Krimea.
Baca: Iran Kirim Personel ke Krimea untuk Ajari Tentara Rusia Gunakan Drone
Milanovic mengkritik Barat karena dianggap menggunakan standar ganda dalam politik internasional. Dia mengatakan Rusia bakal meminta apa yang disebutnya sebagai "aneksasi Kosovo" oleh masyarakat internasional sebagai dalih untuk merebut wilayah-wilayah Ukraina.
Dia menyinggung proklamasi kemerdekaan Kosovo tahun 2008 setelah pecahnya perang tahun 1998—1999. Dalam perang itu negara-negara NATO mengebom "rump-Yugoslavia" untuk melindungi Kosovo yang mayoritas penduduknya adalah orang Albania.
"Kami mengakui bahwa Kosovo melawan kehendak sebuah negara (Serbia) yang memiliki Kosovo," kata dia. Dia mengaku tidak mempertanyakan kemerdekaan Kosovo, tetapi standar ganda yang diterapkan Barat.
Milanovic adalah mantan perdana menteri dari Partai Demokrasi Sosial. Dia dikenal memiliki sikap anti-Uni Eropa.
Baca: Putin: Dinas Intelijen Ukraina Jadi Dalang Peledakan di Jembatan Krimea
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Ukraina di sini.