Mak Nyak senang humor dan ramah.
Di luar kegiatannya di bidang film, ia aktif di organisasi HSBI dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Di LKB ia pernah menjabat Ketua I Divisi Kesenian.
Selain itu ia juga menjabat Komisaris PT Jayanti Adhikara Sinema. Sejalan dengan perkembangan pertelevisian Indonesia yang kian berkembang pada masa itu, Aminah pun ikut menyemarakkan kehadiran dunia sinetron.
Salah satunya adalah Rumah Masa Depan (1984-1985).
Tapi yang melambungkan namanya kembali adalah ketika ia ikut membintangi sinetron Si Doel Anak Sekolahan (1994-1997) yang disutradarai (merangkap sebagai produser dan pemain) Rano Karno.
Sejak masih sekolah di SKP, putri pasangan pelawak H. Husni Nagib dan artis Hj. Wolly Sutinah ini sudah mengenal dunia panggung. Dimulai dengan aktif di pentas sandiwara (1955) sebagai pemain dan penyanyi. Pada tahun yang sama, ia mendapat kesempatan tampil dalam film Oh, Ibuku (Bagian I dari film Gadis Tiga Djaman yang bersambung ke Puteri Revolusi) produksi Garuda Film dan Semeru Film di bawah pengarahan sutradara Ali Yugo.
Bersama ibunya, Wolly Sutinah, pada tahun yang sama ia ikut bermain dalam film Gambang Semarang. Di filmnya yang ketiga, Ibu dan Putri (1955) yang disutradari Ha van Wu, Aminah Cendrakasih diberi kepercayaan sebagai pemeran utama bersama dengan Lies Noor.
Sejak 1955 sampai 1989 saja ia sudah membintangi sekitar 101 film, baik sebagai pemeran pembantu maupun pemeran utama. Berkat pengabdiannya yang begitu lama di dunia film, pada 1992 Aminah Cendrakasih mendapat Penghargaan Kesetiaan Profesi Keartisan dari Dewan Film Nasional.
Namanya pernah menghilang untuk waktu yang cukup lama dari dunia film, setelah ia membintangi Habis Gelap Terbitlah Terang (1959) dan kemudian menikah. Baru pada 1970 namanya muncul kembali ketika ia turut bermain dalam beberapa sandiwara TV, dan pada 1971 kembali tampil dalam film.
Sebelumnya telah diberitakan, pemeran Mak Nyak dalam Si Doel Anak Sekolahan, Aminah Cendrakasih meninggal dunia, Rabu (21/12/2022).
Kepergian Mak Nyak meninggalkan duka yang mendalam untuk keluarga besar.
"(Kepergian Mak Nyak) meninggalkan 7 anak, yang kini masih hidup ada 5, kemudian 18 cucu, dan 7 cicit," ungkap Ismail, perwakilan keluarga Mak Nyak saat ditemui di rumah duka kawasan Jurang Mangu Barat, Tangerang Selatan pada Kamis (22/12/2022), dikutip dari Kompas.com.
Sebelum meninggal dunia, Mak Nyak berjuang menghadapi penyakit glaukoma yang dideritanya sejak lama.
"Dari yang dulu, memang dulu glaukoma," ujar Ismail.
Sejak menderita sakit tersebut, Mak Nyak tidak bisa melihat dan akhirnya lumpuh.
Dia pun hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.
"Terus tidak melihat (buta), sehingga akhirnya lumpuh dan selama ini tidak banyak gerak, begitu," kata Ismail.
Aminah Cendrakasih alias Mak Nyak meninggal dunia di salah satu rumah anaknya, kawasan Jurang Mangu, Tangerang Selatan pada Rabu (21/12/2022).
Sebelum meninggal, Mak Nyak sempat muntah-muntah sejak pagi hari hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di atas tempat tidur.
Mak Nyak dimakamkan Kamis (22/12/2022) di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
(TRIBUNNEWSWIKI/PUTRADI PAMUNGKAS/Ka)