Jubir Kemenkes Tegaskan Gangguan Ginjal Akut Bukan Karena Infeksi & Efek Samping Vaksin Covid-19

Mohammad Syahril, juru bicara kementerian kesehatan menegaskan tentang penyebab gangguan ginjal akut yang kini sedang terjadi di Indonesia


zoom-inlihat foto
Tribunnewsdrugfreeorg.jpg
Tribunnews/drugfree.org
Ilustrasi obat batuk sirup. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang peredaran obat batuk mengandung dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG) yang diduga memicu gagal ginjal akut seperti di Gambia, Afrika.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menegaskan penyebab gangguan ginjal akut misterius (acute kidney injury/AKI) bukan karena infeksi virus maupun efek dari vaksin Covid-19.

Syahrill mengatakan penyebab gangguan ginjal akut misterius (acute kidney injury/AKI) mengarah ke intoksikasi (keracunan) cemaran etilen glikol.

Hal tersebut disampaikan Syahril dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Selasa (25/10/2022).

Simpulan tersebut muncul usai Kemenkes melakukan beberapa tahapan penyidikan.

Mulai dari penyelidikan epidemiologi, surveillance, dan penelitian maupun pemeriksaan terhadap pasien.

Penelitian dilakukan guna mencari sebab gangguan ginjal akut.

Ini termasuk biopsi atau pengambilan jaringan tubuh untuk diteliti di laboratorium.

Baca: Perkembangan Kasus Gangguan Ginjal Akut di Indonesia : 245 Orang Terdiagnosis, 141 Orang Meninggal

Baca: Daftar 91 Obat yang Dikonsumsi Pasien Gangguan Ginjal Akut, Ada Caviplex hingga Hufagrip

"Kasus gagal ginjal akut ini bukan disebabkan oleh Covid-19, vaksinasi Covid-19, atau imunisasi rutin. Diduga akibat adanya cemaran senyawa kimia pada obat tertentu yang saat ini sebagian sudah teridentifikasi," jelas Syahril, dikutip dari Kompas.

Pihaknya, lanjut Syahril, menyingkirkan beberapa hal yang sebelumnya turut diduga dari hasil pemeriksaan.

"Kita sudah menyingkirkan kasus yang disebabkan oleh infeksi, dehidrasi berat, pendarahan berat, termasuk keracunan makanan dan minuman," kata Syahril.

"Dengan upaya itu, Kemenkes bersama IDAI dan profesi terkait telah menjurus kepada salah satu penyebab yaitu adanya keracunan atau intoksikasi obat," lanjutnya.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut belum ada kasus cacar monyet di Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut belum ada kasus cacar monyet di Indonesia. (Zintan Prihatini/KOMPAS.com)

Syahril pun menjelaskan soal penelitian yang dikuatkan dengan tidak adanya kasus gangguan ginjal baru di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sejak 22 Oktober 2022.

Di mana tindakan yang diambil adalah pemberian instruksi untuk tidak mengonsumsi sementara obat sirup digalakkan oleh Kemenkes.

Sementara itu, RSCM merupakan satu dari 14 rumah sakit rujukan yang disediakan Kemenkes untuk gangguan ginjal akut.

"Tidak ada pasien baru sejak tanggal 22 Oktober yang lalu," imbuh Jubir Kemenkes ini.

Obat penawar ( antidotum) Fomepizole untuk pengobatan pasien yang diklaim bisa mengikat racun yang terdeteksi dalam ginjal pasien juga didatangkan Kemenkes.

Baca: Ganasnya Gagal Ginjal Akut hingga Buat Balita di Depok Meninggal: Sehari Naik Stadium 3 ke 6

Diketahui ada 26 vial Fomepizole didatangkan dari Singapura.

Sementara 16 vial lainnya didatangkan dari Australia.

Tak hanya itu saja, obat serupa juga akan didatangkan dari Jepang dan Amerika Serikat dengan total 200 vial.


"Dari hasil pemberian obat Fometizole, 10 dari 11 pasien yang telah diberikan Fometizole (di RSCM) terus mengalami perbaikan secara klinis. Tidak ada kematian dan tidak ada perburukan lebih lanjut," papar Syahril.

(TRIBUNNEWSWIKI/Ka)







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved