TRIBUNNEWSWIKI.COM - Boris Johnson belum secara resmi menyatakan maju sebagai calon Perdana Menteri (PM) Inggris untuk menggantikan Liz Truss yang mengundurkan diri.
Namun, Johnson sudah meraup banyak dukungan dari Partai Konservatif yang saat ini berkuasa di parlemen Inggris.
Dikabarkan telah ada lebih dari 20 anggota parlemen partai tersebut yang mendukung politikus kontroversial itu.
Selain itu, para mantan donatur dan aktivis partai yang pernah membantu Johnson memenangkan pemilu 2019 juga kembali mendukungnya.
Kepada rekan-rekan terdekatnya, Johnson mengaku ingin maju dalam perlombaan menuju kursi PM. Dia juga meminta mereka untuk membantu kampanyenya.
"Tampaknya dukungan untuk dia mencapai 100. Ada banyak anggota parlemen yang akan menjadi pendukung alami dan belum memberikan pernyaan. Jika dia masuk dalam pemungutan suara oleh anggota, dia mungkin menjadi favorit," kata salah satu pendukung Johnson dikutip dari The Times, (21/10/2022).
Baca: Liz Truss Mundur, Boris Johnson Berambisi Kembali Jadi PM Inggris
Kelompok menjalankan kampanye untuk Johnson juga sudah dibentuk. Kelompok itu bernama "Back Boris" dan dibuat di WhatsApp oleh donatur partai. Per Kamis malam, (20/10/2022), kelompok itu telah berisi lebih dari 300 anggota, mulai dari anggota parlemen dari Partai Konservatif, aktivis senior partai, hingga donatur.
Baca: Mendagri Inggris Braverman Mundur, Pemerintahan Liz Truss Makin Kacau
Satu salah satu pendukung Johnson adalah Ben Elliot, mantan Ketua Partai Konservatif. Di dalam grup itu juga terdapat David Canzini yang menjadi mantan penasihat Johnson.
Sumber The Times mengatakan pada Kamis malam Johnson merespons positif desakan agar dia kembali maju menjadi PM.
"Tidak ada yang meyaknini hal ini terjadi cepat, tetapi dia mendapatkan momentum. Anggota parlemen mulai menyatakan [mendukung] dia, bukan karena mereka pada dasarnya menginginkan dia, tetapi karena mereka yakin dia bakal menang," kata seorang yang dengan Johnson.
Namun, Johnson juga menghadapai sejumlah masalah dalam upayanya kursi PM. Statusnya sebagai anggota parlemen terancam ditangguhkan karena adanya penyelidikan oleh Komite Privilese. Johnson diselidiki apakah dia pernah berbohong kepada parlemen mengenai lockdown atau karantina.
Baca: Mundurnya Boris Johnson Dianggap Bisa Perbaiki Hubungan Inggris dengan Uni Eropa
Jika terbukti bersalah, status Johnson bisa ditangguhkan hingga lebih dari 10 hari. Selain itu, bisa saja nanti ada pemungutan suara untuk menentukan apakah Johnson masih bisa menjadi anggota parlemen yang mewakili daerah Uxbridge & South Ruislip.
Beberapa rekan Johnson juga dikabarkan tidak mendukung keputusannya untuk maju. Menurut mereka, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk Johnson.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Inggris di sini