WHO Kaitkan Kematian Puluhan Anak di Gambia dengan Sirup Buatan India

WHO menyebut kasus kematian puluhan anak di Gambia mungkin terkait dengan sirup obat batuk buatan India.


zoom-inlihat foto
foto-direktur-jenderal-world-health-organization-who-tedros.jpg
FABRICE COFFRINI / POOL / AFP
Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menghadiri konferensi pers yang digelar oleh Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU) pada 3 Juli 2020.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kasus kematian puluhan anak di Gambia mungkin terkait dengan sirup obat batuk buatan India.

Anak-anak tersebut meninggal setelah menderita penyakit/luka ginjal yang akut.

Hal itu disampaikan WHO setelah ada penelitian tentang beberapa sirup obat-obatan yang diduga terkontaminasi dan menyebabkan kematian itu.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut pihaknya sedang melakukan penyelidikan bersama pihak berwenang di India dan perusahaan yang membuat sirup tersebut, yakni Maiden Pharmaceuticals Ltd.

Dilansir dari CNN International, WHO mengeluarkan peringatan penggunakan produk obat-obatan pada hari Rabu, (6/10/2022). Organisasi kesehatan di bawah PBB itu juga meminta pihak berwenang menarik produk buatan Maiden Pharma dari pasar.

Dalam peringatan itu, WHO mengatakan produk itu mungkin didistribusikan di tempat lain melalui pasar tidak resmi. Namun, produk itu baru terdeteksi beredar di Gambia.

Baca: WHO Sebut Akhir Pandemi Covid-19 Sudah Terlihat

Ada empat produk yang disebutkan WHO, yakni Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup, dan Magrip N Cold Syrup.

Hasil analisis di lab mengofirmasi adanya kandungan diethylene glycol dan ethylene glycol dalam jumlah yang "tidak bisa ditoleransi".

Baca: WHO Bakal Ganti Nama Penyakit Cacar Monyet guna Hindari Diskriminasi dan Stigmatisasi

Pada bulan Juli lalu pejabat kesehatan di Gambia mengeluarkan peringatan setelah terjadi kematian puluhan anak akibat masalah ginjal.

Kematian itu awalnya membuat bingung para tenaga medis. Namun, mereka kemudian menemukan pola atau hal yang mirip dalam kasus kematian itu. Pola itu ialah anak-anak jatuh sakit beberapa hari setelah meminum suatu sirup parasetamol.

Direktur Pelayanan Kesehatan Gambia, Mustapha Bittaye, mengatakan masalah serupa juga terdeksi pada sirup lain. Namun, Kementerian Kesehatan masih menunggu hasil verifikasi.

Kata Bittaye, kasus kematian telah berkurang dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu, produk buatan Maiden Pharma juga sudah dilarang beredar. Namun, dia mengatakan beberapa sirup buatan perusahaan itu masih dijual di klinik dan rumah sakit swasta.

Baca: WHO Nyatakan Penyakit Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Global

Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah) dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (11/3/2020).
Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah) dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (11/3/2020). (twitter.com/DrTedro)

Badan Pengawas Obat-obatan Gambia telah mengirimkan surat kepada tenaga kesehatan agar berhenti menjual empat produk yang disebutkan oleh WHO di atas.

Adapun Maiden Pharma adalah perusahana farmasi yang bermarkas di New Delhi. Perusahana itu menjual produknya di dalam negeri dan di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Gambia di sini





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved