TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) menjadi insiden terbesar kedua dalam sejarah sepakbola jika dilihat dari jumlah korban tewas.
Hal ini mengacu pada data dari Football Stadiums.
Sementara tragedi paling mengenaskan dalam sejarah sepakbola terjadi di Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964.
Tragedi tersebut bermula dari adanya pertandingan Peru menghadapi Argentina dalam kualifikasi Olimpiade.
Diketahui Peru dapat membalas ketinggalan 1 skor di menit terakhir.
Akan tetapi, wasit jutsu menganulir gol penyelamat tersebut.
Baca: Tragedi Kanjuruhan: Malang Indonesia
Baca: Rincian Korban Tragedi Laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan
Hingga akhirnya timbul kerusuhan hingga menewaskan 328 orang.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pertandingan Arema vs Persebaya harus berakhir ricuh.
Tragedi stadion Kanjuruhan mencatat ada 127 orang dikabarkan meninggal dunia usai pertandingan derbi Jawa Timur itu, Sabtu (1/10/2022) malam.
Diketahui 34 orang meninggal di stadion.
Sedangkan sisanya meregang nyawa di rumah sakit.
Ada 180 orang dikabarkan dirawat di rumah sakit.
Saat ini dugaan sementara para korban terinjak-injak suporter lain.
Juga sesak nafas akibat semprotan gas air mata jajaran keamanan.
Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur ini juga sudah dikonfimasi oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta dalam konferensi pers di Malang, Minggu (2/10/2022).
"Dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang, dua di antaranya anggota Polri,"jelas Nico, dikutip dari Kompas.
Informasi yang beredar kericuhan terjadi usai para suporter turun ke lapangan.
Hal tersebut dilakukan lantran suporter tak terima atas kekalahan tim Singo Edan yang kalah 2-3 dari Persebaya.
Suporter tampak tak terima dan mulai merangsek turun ke lapangan, meloncati pagar.
Terlihat pengamanan kewalahan untuk menghalau kericuhan.