Kasus Mahsa Amini, Teheran Tuding AS Manfaatkan Kekacauan di Iran

Kata Iran, AS ingin melemahkan Iran dengan memanfaatkan sejumlah kekacauan dan kerusuhan yang terjadi belakangan ini.


zoom-inlihat foto
terhadap-Mahsa-Amini.jpg
ALEX WONG / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Para aktivis berunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Amerika Serikat, untuk mengecam dugaan tindak kekerasan terhadap Mahsa Amini, (24/9/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Iran menuding Amerika Serikat (AS) memanfaatkan kekacauan yang terjadi di Iran akibat kematian Mahsa Amini.

Mahsa Amini meninggal saat ditahan oleh polisi moral Iran. Peristiwa ini memicu banyak kecaman dari masyarakat internasional.

Berbagai protes besar digelar negara itu. Pemerintah Iran kemudian meresponsnya dengan melakukan penindakan keras. Puluhan pengunjuk rasa dilaporkan tewas.

Kata Iran, AS ingin melemahkan Iran dengan memanfaatkan sejumlah kekacauan dan kerusuhan yang terjadi belakangan ini.

"Washington selalu berupaya melemahkan stabilitas dan keamanan Iran meski tidak pernah berhasil," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Naseer Kanaani, melalui pernyataan, dikutip dari Reuters.

Kanaani menuding para pemimpin AS dan beberapa negara Eropa mendukung para "pengacau" alias pengunjuk rasa. Selain itu, dia menuding mereka telah mengabaikan "keberadaan jutaan orang di jalan dan alun-alun yang mendukung sistem itu".

Baca: Iran Murka, Tuding Barat Ikut Campur dalam Kasus Mahsa Amini

Banyak warga Iran yang melancarkan protes dan meminta pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mundur. Mereka turut meminta rezim Khamenei digulingkan.

Seorang aktivis dengan nama akun Twitter @1500tasyir mengunggah video yang diduga memperlihatkan aksi unjuk rasa di jalanan di Teheran pada hari Senin, (26/9/2022). Dalam video itu terdengar ada pengunjuk rasa yang berteriak meminta "Khameini mati".

Baca: Media Garis Keras di Iran Puji Hadi Matar yang Tikam Salman Rushdie

Video lain memperlihatkan para pengunjuk rasa di Sanandaj, Provinsi Kurdistan, melepas hijabnya untuk memprotes aturan berhijab.

Ada pula video di media sosial yang memperlihatkan aparat keamanan melepaskan tembakan di tengah unjuk rasa yang terjadi di Sardasht.

Para pengunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Amerika Serikat, berdemonstrasi atas kematian Mahsa Amini, (24/9/2022)
Para pengunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Amerika Serikat, berdemonstrasi atas kematian Mahsa Amini, (24/9/2022) (ALEX WONG / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP)

Duta besar dipanggil

Pada hari Senin, Jerman memanggil Duta Besar Iran untuk mendesak negaranya menghendikan penindakan keras terhadap pengunjuk rasa.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya sanski untuk Iran, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Jerman tidak menjawabnya. Jubir Kemenlu hanya berkata, "Kami akan mempertimbangkan semua opsi."

Di sisi lain, Iran telah memanggil Duta Besar Inggris dan Norwegia.

Baca: Pejabat AS Perkirakan Iran Akan Kembali Serang Pasukan AS di Timur Tengah

Duta Besar Inggris dipanggil sehubungan dengan adanya pemberitaan yang dilakukan oleh media berbahasa Persia yang bermarkas di London. Menurut Iran, media itu memiliki "sifat bermusuhan".

Kementerian Luar Negeri Inggris kemudian mengatakan bahwa negaranya mendukung kebebasan media. Inggris juga mengecam tindakan tegas yang dilakukan Iran terhadap para pengunjuk rasa dan jurnalis.

Adapun Duta Besar Norwegia dipanggil untuk menjelaskan "sikap ikut campur" yang ditunjukkan oleh Masud Gharakhani, seorang anggota parlemen Norwegia.

Gharakhani dituding mendukung para pengunjuk rasa di Iran. Politikus yang lahir di Iran itu mengungkapkan dukungannya melalui Twitter.

Baca: Iran: Jika Rusia Tidak Memulai Perang di Ukraina, NATO Akan Memulainya

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Iran di sini

 

 







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved