Studi Kaitkan Kenaikan Suhu Udara dengan Peningkatan Twit Kebencian

Berdasarkan studi tersebut, didapati bahwa orang-orang akan lebih banyak mengeluarkan ujaran kebencian ketika suhu udara naik.


zoom-inlihat foto
ilustrasi-twitter-2.jpg
Tribun WOW
Ilustrasi Twitter


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Baru-baru ini sebuah studi menunjukkan adanya kaitan antara kenaikan suhu udara dan peningkatan jumlah ujaran kebencian di media sosial.

Hasil studi itu telah diterbitkan di jurnal The Lancet Planetary Health bulan ini.

Berdasarkan studi tersebut, didapati bahwa orang-orang akan lebih banyak mengeluarkan ujaran kebencian ketika suhu naik. Kenaikan suhu diduga mempengaruhi kesehatan mental.

Dikutip dari Newsweek, (20/9/2022), para peneliti menggunakan piranti kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk mengidentifikasi sekitar 75 juta twit kebencian dalam bahasa Inggris yang diunggah dari tahun 2014 hingga 2020.

Kemudian, peneliti menganalisis perubahan jumlah ujaran kebencian ketika suhu udara berubah.

Peneliti mendefinisikan ujaran kebencian sesuai dengan definisi resmi dari PBB, yakni ujaran buruk yang mengacu kepada seseorang atau suatu kelompok berdasarkan agama, etnisitas, bangsa, ras, warna, keturunan, gender, dan faktor identitas lainnya.

Baca: AWAS! Pemanasan Global Akan Sebabkan Tanah Kehilangan Kemampuan Menyerap Air

Hasil studi memperlihatkan bahwa jumlah twit kebencian meningkat saat suhu naik melebihi "batasan nyaman" ataupun turun dari batasan itu.

Baca: Wanita Ini Berjalan Lebih dari 3.000 Kilometer dalam Misi Memerangi Perubahan Iklim

"Kami melihat bahwa di luar rentang suhu yang nyaman, yakni 12 hingga 21 derajat Celsius, ujaran kebencian meningkat hingga 12% saat suhu rendah, dan meningkat hingga 22% saat suhu lebih tinggi, di seluruh Amerika Serikat," kata Annika Stechemesser, ilmuwan pada Institut Postdam dan penulis hasil studi itu.

Selain itu, suhu udara di atas 30 derajat Celsius juga terbukti terkait dengan peningkatan ujaran kebencian di semua zona iklim serta di semua perbedaan sosial ekonomi, seperti penghasilan, kepercayaan keagamaan, dan pilihan politik.

Peneliti mendapati bahwa jumlah twit kebencian paling rendah terjadi saat suhu udara berada pada rentang 15 hingga 18 derajat Celsius.

"Orang-orang cenderung lebih agresif dalam perilaku di dunia maya ketika suhu udara di luar terasa terlalu dingin atau terlalu panas," kata Stechemesser.

Baca: Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen Ajak Pemerintah Joe Biden Kerjasama Atasi Perubahan Iklim

"Bahkan, di area dengan penduduk berpenghasilan tinggi yang mampu membeli AC dan mempunyai opsi lain untuk mengurangi panas, kami melihat adanya peningkatan ujaran kebencian saat cuaca sangat panas.

Ilustrasi Twitter
Ilustrasi Twitter (GLENN CHAPMAN / AFP)

Para peneliti kemudian mengkhawatirkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental, terutama pada kalangan muda dan kelompok yang terpinggirkan.

Leoni Wenz, salah satu peneliti dalam studi itu, mengatakan peningkatan ujaran kebencian menunjukkan bahwa perubahan iklim bisa berdampak terhadap kesehatan mental masyarakat.

"Oleh karena itu, mengurangi emisi dengan sangat cepat dan drastis tidak hanya menguntungkan dunia luar," kata Wenz. "Melindungi iklim kita dari pemanasan global yang parah juga sangat penting bagi kesehatan mental kita."

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang ujaran kebencian di sini

 











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved