TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kepala Program Pangan Dunia PBB, David Beasley, memperingatkan bahwa 345 juta orang di dunia terancam kelaparan, (15/9/2022).
Dari jumlah itu, 50 juta di antaranya mengalami malnutrisi yang sangat parah, bahkan "sudah di ambang kelaparan".
Menurut Beasley, hal itu merupakan situasi darurat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Apa yang dulu merupakan gelombang kelaparan kini telah menjadi tsunami kelaparan," kata dia dalam pidatonya di depan Dewan Keamanan PBB, dikutip dari Associated Press.
Beasley turut menyinggung bertambahnya konflik, dampak pandemi dalam bidang ekonomi, perubahan iklim, melonjaknya harga minyak, dan perang di Ukraina.
Kata dia, sejak Rusia menginvasi Ukraina bulan Februari lalu, 70 juta orang di dunia makin dekat dengan bencana kelaparan. Ini lantaran invasi itu menyebabkan harga pangan, minyak, dan pupuk melambung.
Pada bulan Juli lalu sudah ada kesepakatan yang memungkinkan gandum dan produk pertanian lainnya dari Ukraina bisa diekspor secara aman. Namun, Beasley mengatakan tetap ada banyak ancaman kelaparan "nyata dan berbahaya".
Baca: Inggris Desak Negara Afrika yang Dilanda Kelaparan untuk Beternak Serangga
"Dan pada tahun 2023, krisis harga pangan saat ini bisa menjadi krisis ketersediaan pangan jika kita tidak bertindak," kata dia menjelaskan.
Kini Dewan Keamanan PBB memfokuskan krisis pangan yang dipicu oleh konflik dan ancaman kelaparan di Ethiophia, Nigeri timur laut, Sudan Selatan, dan Yaman. Namun, Beasley dan ketua urusan kemanusiaan PBB, Martin Griffiths, juga memperingatkan adanya krisis pangan di Somalia dan Afganistan.
Baca: PBB Sebut 2,3 Miliar Orang di Dunia Alami Kekurangan Pangan Tahun 2021
"Kelaparan akan terjadi di Somalia," kata Griffiths. "Dan tidak akan menjadi satu-satunya tempat yang mengalami kelaparan."
Griffiths juga mengutip hasil penelitian baru-baru ini yang menyebutkan bahwa "ratusan ribu orang menghadapi kelaparan dalam tingkat amat parah".
Sementara itu, Beasley pada bulan Februari 2020 lalu sempat memperingatkan ancaman bencana kelaparan. "[Saat itu] kita menghadapi [ancaman] kelaparan yang sangat besar." Namun, kata dia, dunia kemudian "memperbanyak dana bantuan dan respons" sehingga bencana kelaparan bisa dihindari.
Kendati demikian, Beasley mengatakan dunia kembali menghadapi ancaman ini. "Bahkan lebih buruk, dan kita harus melakukan semua yang kita bisa."
Baca: Halangi Ekspor, Rusia Disebut Ubah Gelombang Krisis Pangan Jadi Tsunami
Sejalan dengan pemikiran Beasley, Griffiths mengatakan krisis pangan yang meluas saat ini disebabkan oleh dampak langsung dan tidak langsung dari konflik dan kekerasan. Konflik itu memaksa orang-orang pergi dari tanah tempat mereka menggantungkan hidup.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang kelaparan di sini