TRIBUNNEWSWIKI.COM - Korea Selatan (Korsel) kembali memecahkan rekor angka fertilitas atau angka kesuburan terendah di dunia tahun lalu.
Hal ini diketahui dari data sensus yang dipublikasikan hari Rabu, (24/8/2022).
Pakar memperkirakan angka fertilitas di Korsel akan turun lagi tahun ini dan memunculkan krisis demografi.
Angka fertilitas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita selama masa reproduksinya.
Dikutip dari The New York Times, angka fertilitas di negara pernah mencapai 4,53 pada tahun 1970.
Namun, angka itu terus turun. Penurunan yang lebih cepat terjadi pada tahun 2000-an ketika ada krisis keuangan.
Pada tahun 2018 angka fertilitas sudah berada di bawah 1,0. Ini disebabkan oleh harga rumah, biaya perawatan anak, dan biaya pendidikan yang makin melonjak.
Selain itu, lapangan kerja yang makin sedikit dan munculnya kekhawatiran akan masa depan turut menyumbang penurunan tersebut.
Baca: AS & Korsel Unjuk Gigi kepada Korut, Gelar Latihan Militer Besar-besaran
Tahun lalu, menurut Badan Statistik Korea, angka fertilitas di negara itu sudah turun hingga mencapai 0,81.
Angka ini diperkirakan akan turun lagi karena warga Korsel enggan memiliki anak lantaran harga rumah melambung.
Pakar menyebut agar jumlah penduduk stabil atau tetap, angka fertilitas minimal harus 2,1.
Dampak rendahnya angka fertilitas telah dirasakan oleh warga Korsel.
Jumlah penduduk berkurang selama dua tahun terakhir; sekolah-sekolah kekurangan murid; militer mempermudah seseorang untuk mengikuti wajib militer.
Selain itu, berkurangnya penduduk usia kerja juga merugikan penduduk yang sudah memasuki masa pensiun.
Baca: Korsel Akan Cabut Larangan Baca Media Korut: Agar Saling Mengerti
Pemerintah Korsel sudah mengetahui krisis demografi yang mendera negaranya. Akan tetapi, pakar menyebut Korsel gagal menangani krisis itu
"Seberapa sulitkah orang untuk menikah, melahirkan, dan membesarkan anak sehingga jumlah ini sangat rendah?" kata Lee Samsik, profesor bidang kebijakan, di Universitas Hanyang.
Lee berujar pemerintah harus menginvestikan lebih banyak dana dalam bidang perawatan anak, memperbanyak kesempatan kerja untuk kalangan muda, dan membuat harga rumah terjangkau, dan mendorong imigrasi.
Kurangnya tenaga kerja memaksa Korsel mengembangkan teknologi robot dan kecerdasan buatan demi mengatasinya.
Baca: Diprovokasi Korut, Korsel Tak Bisa Diam Terus, Kim Jong Un Diminta Awali Pembicaraan
Sementara itu, Kementerian Kehakiman Korsel berkata akan membuat lembaga yang mendorong adanya imigrasi ke negara itu.
Pakar demografi Lee Sang-lim meyakini Korsel akan mengalami kekurangan tenaga besar secara besar-besaran pada pertengahan dekade 2030 jika tidak ada intervensi.
"Hidup tidak akan menyenagkan bagi banyak generasi muda," kata Lee.
"Bagi banyak orang, tidak memiliki anak atau menikah adalah hal yang normal."
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Korea Selatan di sini