TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Singapura dilaporkan meningkat drastis.
Singapura sudah melaporkan lebih dari 11.000 kasus DBD tahun ini, per Juni 2022.
Jumlah ini jauh lebih banyak daripada jumlah tahun lalu yang mencapai 5.258 kasus.
Kasus DBD tahun ini sudah melonjak bahkan sebelum bulan Juni yang biasanya menjadi periode puncak.
"Kasus benar-benar meningkat cepat," kata Menteri Dalam Negeri Singapira Desmond Tan dikutip dari CNN International.
"Sekarang adalah fase darurat yang harus kita hadapi."
Pakar mengatakan meningkatnya kasus DBD tidak hanya terjadi di Singapura, tetapi juga di seluruh dunia.
Menurut pakar, peningkatan ini terjadi akibat perubahan iklim global. DBD diperkirakan akan menyebar lebih luas pada tahun-tahun mendatang.
Wabah DBD di Singapura, kata pakar, diperburuk dengan adanya cuaca buruk belakangan ini.
Cuaca panas dan hujan deras diduga membantu penyebaran nyamuk dan virus yang dibawanya.
"Penyakit ini kini endemik di lebih dari 100 negara," demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya tentang DBD pada bulan Januari 2022.
Baca: Singapura Alami Krisis Nasi Ayam gara-gara Malaysia Melarang Ekspor Unggas
Baca: Demam Berdarah Dengue (DBD)
WHO bahkan menyatakan kasus DBD telah meningkat hingga 30 kali lipat dalam 50 tahun terakhir.
"Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat karena penyakit ini menyebar ke daerah baru, tetapi wabah besar sedang terjadi."
Pada tahun 2019 tercatat ada 5,2 kasus DBD di seluruh dunia dan ini merupakan rekor baru.
Di Asia, DBD menewaskan ribuan orang. Di Filipina, ada ratusan yang meninggal dan jutaan warga lainnya terancam terkena DBD. Di Bangladesh, rumah sakit kewalahan menerima pasien.
Sementara itu, wabah DBD terburuk di Singapura terjadi pada tahun 2020. Saat itu ada 35.325 kasus dan angka kematian mencapai 28.
Tahun ini, per Juni 2022, baru ada satu kasus kematian di Singapura akibat DBD. Kendati demikian, jumlah kasus telah melonjak.
"Per 28 Mei 2022, sudah ada sekitar 11.670 kasus DBD yang dilaporkan tahun ini, sekitar sepulu persennya memerlukan rawat inip," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Singapura.
Meski meningkat karena adanya lonjakan kasus, angka rawat inap dikatakan belum mengkhawatirkan.
Namun, puncak wabah DBD di Singapura baru dimulai. Pakar mengatakan bisa saja kasus DBD tahun ini mencetak rekor baru.
Baca: Meneliti Penyakit Demam Berdarah, Seorang Ilmuwan Rela Tangannya Digigit 5000 Nyamuk Betina
Baca: Demam Berdarah Merebak Bersamaan dengan Virus Corona, Para Ahli Khawatir Kesalahan Diagnosa
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang demam berdarah di sini