Pembawa acara ini mengatakan, jika serangan nuklir tersebut benar-benar diluncurkan, Irlandia dan Inggris akan hancur dan tenggelam.
Kiselyov, dalam The Stars and Stripes, Selasa (3/5/2022), menuding Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah mengancam Rusia dengan serangan nuklir selama perang di Ukraina.
Hanya dengan serangan rudal Sarmat satu saja, sudah cukup untuk menenggelamkan dan meratakan satu kepulauan di Inggris dan Irlandia.
“Hanya dengan sekali peluncuran, Boris, Inggris tidak akan ada lagi,” kata Kiselyov, dikutip dari The Telegraph.
“Opsi lain adalah menenggelamkan Inggris ke dalam laut menggunakan kendaraan nirawak bawah laut Rusia, Poseidon,” lanjut dia.
Di lain sisi, Boris Johnson justru melanjutkan dukungannya untuk Ukraina pada hari-hari sejak video simulasi serangan nuklir itu ditayangkan di negara yang dipimpin oleh Putin tersebut.
Dalam sebuah tautan video, Johnson menyampaikan dengan nada optimis pada upaya perang kepada parlemen Ukraina, pada Selasa lalu.
Video viral yang memperlihatkan serangan nuklir yang ditujukan ke Inggris dan Irlandia tersebut mendapatkan sambutan kecut di Irlandia.
Satu di antaranya adalah Perdana Menteri Irlandia Michael Martin.
Martin menggambarkan kepada penyiar nasional Irlandia RTE, simulasi serangan nuklir Rusia sebagai taktik tipe intimidasi yang sangat jahat.
Perdana Menteri Irlandia ini juga menyerukan agar Rusia meminta maaf.
“Ini mencerminkan pola pikir yang mengkhawatirkan dan tidak berhubungan dengan kenyataan,” ungkap Martin.
Media Rusia: Putin Lebih Suka Perang Nuklir daripada Terima Kekalahan di Ukraina
Seorang editor senior TV pemerintah Rusia, Russian Today (RT), mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin lebih suka melakukan perang nuklir daripada menerima kekalahan di Ukraina.
Margarita Simonyan, nama editor itu, menyampaikannya melalui TV Rabu malam, (27/4/2022), lalu.
Menurutnya, Putin kemungkinan besar akan lebih memilih mengerahkan senjata nuklir daripada mengaku kalah.
Sebelumnya, Rusia sempat memperingatkan Barat tentang konsekuasi yang muncul apabila ikut campur dalam urusannya di Ukraina.
"Kita kalah di Ukraina atau Perang Dunia Ketiga dimulai. Saya pikir Perang Dunia Ketiga lebih realistis, mengingat [sifat] pemimpin kami," kata Simonyan dikutip dari The Independent.
"Bagi saya, bahwa semua ini akan berakhir dengan serangan nuklir tampak lebih mungkin daripada peristiwa lainnya."
"Di satu sisi, ini menjadi ketakutan saya. Namun, di sisi lain itulah kenyataan."
Baca: Jokowi Minta Vladimir Putin Segera Hentikan Perang atas Ukraina, Siap Kontribusi Perdamaian
Baca: Mulai Muak, Putin Beri Ancaman Serangan Secepat Kilat Jika NATO Berani Campur Tangan di Ukraina