Hampir 85 Persen Korban Tewas di Bucha Ukraina Alami Luka Tembak, Wali Kota: Pembunuhan Berencana

Wali Kota Bucha mengatakan hampir 85 persen korabn tewas di wilayahnya mengalami luka tembak.


zoom-inlihat foto
Seorang-pria-berjalan-dengan-tas-makanan.jpg
RONALDO SCHEMIDT / AFP
Seorang pria berjalan dengan tas makanan yang diberikan untuk tentara Ukrania di Bucha, barat laut Kyiv, pada 2 April 2022, di mana walikota mengatakan 280 orang telah dikuburkan di kuburan massal dan kota itu dipenuhi dengan mayat. - Ukraina telah mendapatkan kembali kendali atas "seluruh wilayah Kyiv" setelah invasi pasukan Rusia mundur dari beberapa kota penting dekat ibukota Ukraina, kata wakil menteri pertahanan hari ini. (Photo by RONALDO SCHEMIDT / AFP)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hampir 85 persen dari mayat penduduk yang tewas di Kota Bucha, Ukraina, memiliki luka tembak pada tubuhnya.

Wali Kota Bucha Anatoliy Fedoruk menilai ini menunjukkan pembunuhan berencana yang dilakukan secara sadar oleh Rusia.

"Hampir 85 persen dari semua mayat yang kami keluarkan dari kuburan massal atau penguburan individu di kebun, taman, alun-alun, pekarangan memiliki lubang peluru pada tubuhnya. Artinya, pembunuhan berencana secara sadar terjadi di Bucha," kata Fedoruk.

Melansir dari Tribunnews.com yang mengutip laman Ukrinform, Jumat (15/4/2022), Fedoruk menyebut bahwa pemindahan jenazah dari kuburan massal di wilayah Gereja St. Andrew yang menjadi galian pertama kemungkinan bakal selesai pada Jumat ini.

"Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini, kami akan mengeluarkan mayat dan mengirimkan mereka ke kamar mayat untuk melakukan prosedur yang relevan. Sedangkan untuk kerabat yang akan mengambil mayat-mayat ini diharapkan menguburkan mereka secara tepat dan layak," jelas Fedoruk.

Seorang polisi Ukraina berdiri di dekat mayat yang ditutupi lembaran plastik setelah serangan roket yang menewaskan sedikitnya 35 orang pada 8 April 2022 di sebuah stasiun kereta api di Kramatorsk, Ukraina timur, yang digunakan untuk evakuasi warga sipil.
Seorang polisi Ukraina berdiri di dekat mayat yang ditutupi lembaran plastik setelah serangan roket yang menewaskan sedikitnya 35 orang pada 8 April 2022 di sebuah stasiun kereta api di Kramatorsk, Ukraina timur, yang digunakan untuk evakuasi warga sipil. (AFP)

Baca: Sebut Eropa Tak Bisa Tinggalkan Gas Rusia, Putin Alihkan Ekspor Gas ke Asia

Jaksa Agung Venediktova dan Jaksa ICC Khan melakukan perjalanan kerja bersama ke Bucha di wilayah Kiev.

Di wilayah tersebut terdapat banyak kuburan mayat warga sipil yang terbunuh dan tengah digali.

Pasukan Rusia sejak awal April lalu memang telah membebaskan wilayah Kota Irpin, Bucha, Borodianka, dan seluruh wilayah Kiev.

Namun, ironisnya, pembunuhan massal warga sipil oleh pasukan Rusia telah dicatat di kota-kota dan desa-desa yang dibebaskn tersebut.

Di antara para korban kejahatan perang Rusia ini terdapat wanita yang diperkosa, mereka yang tubuhnya dibakar, pembunuhan terhadap pejabat pemerintah setempat, anak-anak, pria hingga orang tua.

Banyak di antara korban perang yang ditemukan dalam kondisi tangan terikat, bahkan ada bekas penyiksaan pada tubuh mereka.

Tidak hanya itu, para korban pun ditembak pada bagian belakang kepala.

Atas permintaan 42 negara, Pengadilan Kriminal Internasional mengumumkan peluncuran penyelidikan kejahatan perang usai dilancarkannya invasi Rusia ke Ukraina pada Maret lalu.

Baca: Joe Biden Berikan Bantuan Militer Sebesar 800 Juta Dolar AS kepada Ukraina

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dalam pidato yang disiarkan televisi nasional negara itu pada 24 Februari lalu bahwa sebagai tanggapan atas permintaan para Kepala Republik Donbass, ia telah membuat keputusan untuk melakukan operasi militer khusus ke Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi nasional negara tersebut, pada 24 februari lalu.

Pidato itu berisi tanggapan atas permintaan para Kepala Republik Donbass. Yang mana Putin telah membuat keputusan untuk melakukan operasi militer khusus ke Ukraina.

Operasi ini disebut untuk melindungi orang-orang 'yang telah mengalami pelecehan dan genosida oleh rezim Ukraina selama 8 tahun'.

Meski begitu, Putin menekankan bahwa Rusia tak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina.

Selain itu, pemimpin Rusia tersebut pun menekankan bahwa operasi militer yang dilakukan bertujuan untuk 'denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina'.

Sementara itu, negara Barat memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Rusia lantaran melakukan invasi ke Ukraina.

Penerapan sanksi ditujukan terhadap badan hukum maupun individu swasta Rusia.

Baca: Rusia Dituding Gunakan Senjata Kimia, Warga Ukraina Rasakan Rasa Manis di Mulut

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya)

Baca selengkapnya terkait invasi Rusia di sini





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved