Kepala bagian belakang Daffa Adzin terkena sabetan benda tajam yang diduga adalah gir.
Ia kemudian dilarikan ke RSPAU Hardjolukito oleh Dafa Saputra.
"Dafa A kemudian dirawat dan komunikasi orangtua, yang lalu menghubungi pihak sekolah. Kami meluncur ke rumah sakit, lalu jam 09.30 nyawa anak kami tidak tertolong," ujar Slamet.
"Mungkin sangkaan kita motor dua Dafa ini dicegat depannya lalu disabet dari belakang," lanjut dia.
Dikatakan Slamet, usai jenazah selesai dimandikan, disalatkan, dan dikafani, jenazah kemudian diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di Kebumen.
"Dimakamkan di tempat tinggalnya di Kebumen, dan kami sekolah, orangtua siswa yang simpati turut mengiringi," ujar Slamet.
Slamet berujar bahwa kedua Dafa ini tidak mengenal kelompok yang melakukan penganiayaan kepada Dafa Adzin.
Ia menuturkan, kedua Dafa ini sahur bersama lantaran keduanya akan pulang kampung, Dafa Adzin ke Kebumen dan Dafa Saputra ke Lampung.
Keduanya pulang kampung lantaran sekolah akan kembali melalui daring.
"Karena pembelajaran online soalnya kelas XII ujian masuk ke sekolah. Maka Kelas X, dan XI itu sekolah online. Dua anak ini satu kos," kata Slamet.
Slamet menambahkan Dafa Adzin merupakan anak yang aktif di bidang organisasi sekolah, yakni di Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM).
Dia juga sempat menjadi panitia pentas seni online di sekolahnya beberapa waktu lalu.
(tribunnewswiki.com/Rakli Almughni)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini