6 Fakta Pala Papua dalam Kehidupan Masyarakat Fakfak

Secara budaya, pohon pala di Fakfak dianggap seperti ibu sendiri oleh masyarakat setempat, karena pohon tersebut dinilai memberi kehidupan.


zoom-inlihat foto
Pala-Papua.jpg
Dok. INOBU
Pala Papua


Bahkan sebelum Indonesia merdeka, pala sudah dipandang sebagai komoditas yang bernilai ekonomi tinggi oleh bangsa-bangsa di luar Indonesia.

Nanny bercerita, zaman dahulu masyarakat Fakfak pesisir dan beberapa bangsa lain sudah menjalin hubungan perdagangan.

"Ketika bangsa lain datang ke Papua untuk melakukan misi penginjilan, mereka memberi tahu masyarakat Fakfak tentang nilai ekonomi biji pala. Seandainya mereka tidak memberi tahu, pala akan dibiarkan tumbuh begitu saja, tanpa dipetik buahnya, Kemudian, dimulailah proses ekspor pertama dalam bentuk barter. Dari cerita lisan orang tua kami, ekspor pala telah dilakukan sejak zaman Belanda," kata Nanny dalam rilis pers yang diterima TribunnewsWiki, pada Senin (4/4/2022).

Belakangan, ketika pemerintah formal mulai terbentuk, barulah masyarakat mengenal pala sebagai komoditas unggulan yang nilainya sangat menjanjikan.

Penjualan zaman dahulu bukan per buah, melainkan per pohon.

"Sebenarnya pemetik akan merugi, kalau buah di satu pohon terbilang banyak. Tapi, dulu secara tradisional transaksinya memang seperti itu,” lanjut Nanny, yang ingin membuat kajian akademis tentang pala.

Digunakan sebagai 'bank hidup'

Umumnya, musim panen pala adalah 2 kali setahun.

Namun, terkadang di antara waktu panen tersebut terselip satu kali musim panen tambahan.

Karena tidak bisa dipanen setiap hari, maka menjual pala atau menggadai pohon pala tidak bisa dijadikan sebagai mata pencaharian utama penduduk Fakfak.

Mereka memiliki pekerjaan tetap, antara lain sebagai nelayan dan pegawai negeri.

"Pala yang mereka panen dan jual digunakan sebagai dana cadangan, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Anggaplah sebagai ‘bank hidup’. Ketika akan mengadakan hajatan atau menyekolahkan anak, mereka akan menggadaikan pala kepada pengepul," kata Nanny, yang juga bisa sekolah berkat pala.

Baca: Biji Ketapang

Lalu, bagaimana cara menentukan seorang warga berhak menjual pohon yang mana?

Nanny menjelaskan, warga Papua mempunyai hak kepemilikan lahan atau hutan yang sifatnya komunal.

Tapi, pembagiannya sudah jelas, yaitu berdasarkan marga, yang kemudian diturunkan ke keluarga-keluarga.

Sistem pembagian tersebut tidak tertulis, namun sudah menjadi kebiasaan secara turun-temurun.

Pala Papua bisa dijual dalam bentuk segar maupun kering.

Menurut Nanny, sejak ia kecil hingga sekarang, warga Fakfak menjual pala segar baru petik per 1.000 buah, sedangkan pala kering rata-rata dijual per kilogram.

Ofra menambahkan, "Dari kajian rantai pasok pala Papua, kami menemukan, pala-pala itu dijual ke pengepul. Dan, hampir semua pala dari Fakfak dikirim ke Surabaya. Sebagian kecil dikirim ke Sulawesi. Yayasan Inobu sedang berusaha untuk memperpendek rantai pasok. Dengan begitu, pemanen bisa terkoneksi langsung ke pasar, tidak lagi melalui pengepul, sehingga mendapatkan keuntungan lebih besar."

Penjaga lingkungan dari bencana





Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Kamu Harus Mati

    Kamu Harus Mati adalah sebuah film misteri yang
  • Film - Keluarga Suami Adalah

    Keluarga Suami Adalah Hama adalah sebuah film drama
  • Boah Sartika

    Lahir pada 8 Maret 2000, perjalanan Boah Sartika
  • Film - Orpa (2022)

    Orpa adalah sebuah film drama yang disutradarai oleh
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved