TRIBUNNEWSWIKI.COM - Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov meminta bantuan miliarder Amerika Serikat, Elon Musk, untuk menghidupkan koneksi internet di Ukraina.
Koneksi internet di Ukraina sempat dilaporkan terganggu akibat serangan Rusia ke negara bekas Uni Soviet itu.
"Ketika Anda mencoba mengoloni Mars — Rusia mencoba menduduki Ukraina! Ketika roket Anda berhasil mendarat dari angkasa — roket Rusia menyerang warga sipil Ukraina," kata Fedorov melalui Twitter.
Musk kemudian menanggapi cuitan itu dan mengatakan bahwa layanan internet Starlink yang disediakan perusahaannya telah aktif.
Dia juga mengatakan SpaceX tengah mengirimkan banyak terminal ke Ukraina,
"Layanan Starlink kini aktif di Ukraina. Lebih banyak terminal dan jaringan," kata Musk melalui akun Twitter miliknya.
Koneksi internet di Ukraina, terutama di wilayah selatan dan timur, memang sempat mengalami gangguan karena di sana ada pertempuran yang dilakukan kedua belah pihak.
Baca: Para Hacker Dipanggil, Ukraina Bentuk Tentara IT untuk Lawan Serangan Siber Rusia
Baca: Hacker Pemerintah Rusia Disebut Telah Terobos Sistem Militer Ukraina
Ukraina bentuk tentara IT
Sementara itu, Ukraina juga dilaporkan tengah membentuk tentara IT (information technology) guna melawan serangan siber dari Rusia.
Negara itu telah memanggil para peretas atau hacker untuk membantu melindungi infrastruktur penting di Ukraina.
Selain itu, para peretas juga akan melakukan misi spionase untuk melawan pasukan Rusia.
"Kami tengah membentuk tentara IT," kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov melalui Twitter, Sabtu (26/2/2022), dikutip dari Reuters.
"Setiap orang akan diberi tugas. Kami terus berjuang di medan perang siber. Tugas pertama ada di kanal untuk para ahli dengan spesialisasi siber."
Kanal itu ada di aplikasi perpesanan Telegram dan berisi daftar laman perusahaan besar Rusia dan lembaga negara.
Baca: Sosok Tentara Ukraina, Korbankan Diri dengan Meledakkan Jembatan yang akan Dilintasi Tank Rusia
Beberapa di antaranya adalah perusahaan energi bernama Gazprom, perusahaan minyak terbesar kedua di Rusia, Lukoil, tiga bank, dan sejumlah laman pemerintahan.
Kremlin.ru yang menjadi laman resmi pemerintah Rusia dan laman Presiden Rusia Vladimir Putin sempat tidak bisa diakses pada hari Sabtu karena serangan distributed denial of service (DDoS).
Sementara itu, pekan lalu di Ukraina muncul perangkat lunak berbahaya yang bertujuan menghapus data.
Perusahaan keamanan siber, ESET, memperkirakan perangkat lunak itu telah menyerang ratusan komputer di Ukraina.
Perangkat itu diduga diluncurkan oleh Rusia. Negara itu memang telah berulang kali dituding melakukan tindakan peretasan di Ukraina dan negara lainnya.
Badan pemerintah dan lembaga keuangan dilaporkan turut menjadi korban peretasan ini.
Baca: Mantan Presiden Ukraina Turun ke Jalan Bersama Warga Sipil, Tenteng AK-47 dan Siap Tempur
Baca: Pemerintah Segera Evakuasi WNI di Ukraina, Desak PBB Ambil Langkah Nyata
Inggris dan Amerika menyebut peretas yang dipekerjakan militer Rusia berada di balik serangan DDoS pekan lalu.
Serangan itu membuat sistem perbankan dan laman pemerintah Ukraina tidak dapat diakses menjelang invasi Rusia.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini