TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tindakan militer Rusia yang memasuki wilayah Ukraina membuat final Liga Champions berisiko tidak digelar di Kota St. Petersburg, Rusia, dan dipindahkan ke tempat lain.
Organisasi Sepak Bola Eropa atau UEFA dilaporkan tengah menggelar rapat untuk membahas dampak tindakan Rusia itu terhadap gelaran Liga Champions.
Para pejabat UEFA berkumpul dan mendiskusikan apakah pertandingan final masih bisa dilakukan di St. Petersburg di tengah sorotan terhadap Rusia.
Dikutip dari Al Jazeera, (23/2/2022), pertandingan final itu direncanakan berlangsung di kota tersebut pada tanggal 28 Mei mendatang.
Jika jadi digelar di sana, final itu akan menjadi acara olahraga paling akbar di Rusia setelah Piala Dunia tahun 2018 silam.
Pada akhir pekan lalu UEFA mengatakan terus memantau erat situasi yang terjadi.
Baca: Percaya Rusia Telah Memulai Invasi ke Ukraina, Joe Biden Jatuhkan Sanksi kepada Moskow
Baca: Menlu Ukraina Dmytro Kuleba: Tujuan Akhir Putin Adalah Menghancurkan Ukraina
Organisasi tersebut juga mengatakan belum memiliki rencana mengubah tempat penyelenggaraan final.
Kendati demikian, krisis Ukraina didiskusikan oleh pejabat tinggi UEFA pada hari Selasa, (22/2/2022).
Salah satu yang turut hadir dalam diskusi itu adalah Presiden UEFA Aleksander Ceferin.
Di tengah krisis Ukraina, UEFA belum mengeluarkan pernyataan terbaru tentang konflik antara Ukraina dan Rusia.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan penyelenggaraan pertandingan besar di Rusia akan menjadi hal yang "tidak terbayangkan".
Ucapan itu keluar setelah pemimpin Partai Demokrat Liberal, Ed Davey, mendesak Johnson untuk memindahkan tempat penyelenggaran final Liga Champions dari St. Petersburg.
Baca: Foto Satelit Tunjukkan Rusia Kembali Tambah Pasukan di Dekat Perbatasan Ukraina
"Dalam situasi kritis ini, sangat penting bahwa Presiden Putin memahami apa yang sedang dilakukannya akan menjadi bencana bagi Rusia," kata Ed Davey.
Ketupa Komite Luar Negeri Parlemen Inggris, Tom Tugendhat, juga meminta UEFA final Liga Champions dipindahkan dari Rusia.
"Ini keputusan memalukan," kata Tugendhat melalui akun Twitter miliknya.
"UEFA seharusnya tidak menutupi kediktatoran kejam."
UEFA telah memisahkan tim Ukraina dan Rusia dalam undian untuk mencegah mereka bertanding bersama sejak Rusia menganeksasi Krimea dan mendukung kelompok separatis di Ukraina timur.
Sementara itu, perusahaan gas ala Rusia, Gazprom, telah menjadi sponsor Liga Champions sejak tahun 2012.
Namun, logo perusahaan itu dihilangkan dari "Champions Festival" di jalan utama Kyiv ketika ibu kota Ukraina itu menggelar pertandingan final Liga Champions 2018 antara Real Madrid dan Liverpool.
Baca: Pemberontak Pro-Rusia Sebut Serangan Pemerintah Ukraina Tewaskan 2 Warga Sipil
Baca: AS Sebut Rusia Sedang Siapkan Invasi ke Ukraina, Bisa Terjadi Beberapa Hari ke Depan
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Ukraina di sini