TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jakarta Intercultural School (JIS) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dan Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta menyelenggarakan program "Jakarta Principal Shadowing Program" yang berlangsung pada 12-13 Januari 2022.
Workshop itu adalah program peningkatan kompetensi manajerial kepala sekolah negeri di lingkungan DKI Jakarta.
Proses seleksi program ini diikuti oleh ratusan kepala sekolah dan meloloskan 11 pendidik.
Para kepala sekolah terpilih menghadiri program selama dua hari pada pekan ini dalam bimbingan para pengajar berpengalaman dari Jakarta Intercultural School.
Kepala sekolah sementara Jakarta Intercultural School, Maya Nelson, mengatakan bahwa Jakarta Principal Shadowing Program adalah program pendampingan terhadap para pemimpin sekolah-sekolah negeri di Jakarta.
"Dalam program ini, lanjut Maya, para kepala sekolah dapat berbagi dan mendapatkan inspirasi dari para pengajar kami dan terinspirasi untuk menjawab tantangan dalam pendidikan Indonesia, khususnya dalam kondisi new normal," kata Maya dalam rilis resmi yang diterima TribunnewsWiki, Sabtu (15/1/2022).
Penyelenggaraan program Jakarta Principal Shadowing Program juga dihadiri oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, dan Kabid Pengembangan Kompetensi Dasar Manajerial dan Fungsional BPSDM Provinsi DKI Jakarta, Indang Murniningsih, SP.d, M.M.
"Program ini sangat penting bagi para kepala sekolah agar dapat melihat secara langsung pengelolaan sekolah bertaraf internasional. Dengan program ini, wawasan mereka tentang pengajaran maupun program semakin terbuka," kata Miftah.
"Selain dapat diterapkan di sekolah masing-masing, mereka juga dapat berbagi dengan rekan-rekan lain di luar sana. Karena sebelas kepala sekolah ini sudah melewati seleksi dan dianggap kompeten untuk dapat mengikuti program ini," imbuhnya.
Baca: Jakarta Intercultural School Buka Learning Center bagi Siswa Berkebutuhan Khusus
Dalam workshop tersebut, para kepala sekolah pun mengaku sangat antusias saat menjalani program ini, seperti yang dirasakan oleh Mirdawani dari SMP 110 Jakarta Selatan.
"Sebagai kepala sekolah, saya merasa Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim memberi perhatian besar kepada murid, karena mereka akan jadi pemimpin masa depan. Dengan demikian, Menteri menjadi sangat peduli dengan guru. Sejalan dengan arahan tersebut, dalam program ini kami diingatkan kembali agar selalu senantiasa mendampingi guru. Dengan siswa sebagai target, kepala sekolah harus lebih bisa memahami kebutuhan guru dan memiliki relationship yang lebih erat dengan para guru. Kami siap membawa mindset yang baru ke sekolah setelah ini," ungkap Mirdawani.
Senada dengan Mirdawani, Dede Hidayat, Kepala Sekolah SMKN 40, Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa tantangan kepala sekolah saat ini adalah mengelola orang-orang.
"Terkait guru, Kami harus bisa memotivasi mereka dan meningkatkan self-discipline. Kepala sekolah dituntut untuk bisa meningkatkan performa guru agar memiliki komitmen yang kuat dalam mengajar," kata Dede.
Tak hanya hubungan dengan guru, melalui program ini, Nunun Maslukah, Kepala Sekolah SMAN 74 Jakarta, terinspirasi untuk lebih mengurangi toleransi kepada para murid.
"Selama proses belajar jarak jauh, para murid sering off cam atau mematikan kamera saat belajar. Kami biasanya memberikan toleransi dan ini jadi problem dalam proses belajar," ujar Nunun.
"Dalam program ini, kami didorong untuk meningkatkan disiplin, misalnya satu kali diizinkan off cam. Jika terjadi yang kedua, maka mereka akan dianggap tidak ikut kelas," imbuhnya.
Baca: Jakarta Intercultural School Buka Pendaftaran Program Beasiswa Bagi Siswa dari Seluruh Indonesia
Off cam rupanya menjadi isu hangat di kalangan pendidik, karena dianggap mengganggu proses belajar para murid.
"Ada murid yang hanya mematikan kamera di jam tertentu. Setelah diselidiki, ternyata ia setiap pagi disuruh orangtua ke pasar. Kami pun berdialog dengan orangtua untuk memberi pengertian tentang proses belajar jarak jauh yang baik dan kini tidak terjadi lagi," kata Dede menambahkan.
Inspirasi lain yang dibawa Dede dari program ini adalah pentingnya data sistematis tentang murid.
"Saat ini Wakil Bidang Kesiswaan di sekolah hanya mendata masalah-masalah berat yang dilakukan murid. Kalau kami punya data yang lebih sistematis dan detail tentang para murid, kami bisa mendeteksi masalah lebih dini dan mampu mencegahnya, seperti yang diterapkan di JIS," ungkap Dede.