Kehidupan Pribadi #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ki Bagus Hadikusumo adalah Ketua PP Muhammadiyah dan anggota BPUPKI.
Ia lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 24 November 1980 dengan nama R. Hidayat.
R. Hidayat atau Ki Bagus merupakan putra ketiga dari lima bersaudara.
Ia adalah putra dari Raden Haji Lurah Hasyim.
Raden Haji Lurah Hasyim adalah abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Jogja.
Keluarganya memiliki hubungan baik dengan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Selain itu, keluarga Ki Bagus adalah sosok keluarga juga sangat dihormati oleh penduduk Yogyakarta.
Ia menikah dengan Siti Fatimah, putri Raden Haji Suhud.
Mereka menikah ketika Ki Bagus berusia 20 tahun, dan dikaruniai enam orang anak.
Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Muhammad Yamin
Salah satunya adalah Djarnawi Hadikusumo yang kelak meneruskan jejak Ki Bagus menjadi tokoh Muhammadiyah dan menjadi orang nomor satu di Parmusi.
Siti Fatimah meninggal lebih dulu.
Sepeninggal istrinya, Ki Bagus kembali menikah dengan Mursilah dan dikaruniai tiga orang anak.
Setelah melahirkan tiga anak, Mursilah meninggal dunia.
Ki Bagus kembali menikah untuk ketiga kalinya.
Kali ini, ia menikah dengan Siti Fatimah.
Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai lima orang anak.
Pendidikan #
Ki Bagus belajar agama dari ayahnya dan dari beberapa kiai di Kauman, termasuk kepada pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.
Ia juga menempuh pendidikan di Pesantren Wonokromo, Jogja.
Selain belajar kitab-kitab yang ada di pesantren, ia juga belajar sastra Jawa, Melayu, dan Belanda dengan Ngabehi Sasrasoeganda.
Ia juga belajar dari tokoh Ahmadiyyah yang ada di Jogja, Mirza Wali Ahmad.
Kiprah di Muhammadiyah #
Pada masa kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan, Ki Bagus menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah sejak tahun 1922.
Pada masa tersebut, ia berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia.
Pada tahun 1936, ketika Muhammadiyah dipimpin oleh KH. Ibrahim, Ki Bagus dipercaya untuk memimpin Majelis Tarjih.
K.H. Mas Mansoer terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 tahun 1937 di Jogja.
Mas Mansoer adalah perwakilan dari golongan muda yang didorong untuk menjadi ketua.
Awalnya, jabatan tersebut diberikan kepada beberapa golongan tua seperti Kiai Hadjid. Namun, ia menolak.
Pada saat itu, Ki Bagus juga mendapatkan tawaran untuk menjadi Ketua. Namun ia juga menolak.
Pada tahun 1944, K.H. Mas Mansur diberi amanah untuk memimpin Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta.
Oleh karena itu, ia mengundurkan dari dari Ketua Umum Muhammadiyah.
Pengunduran diri Mas Mansur membuat Ki Bagus mau tidak mau harus mengemban amanah tersebut.
Baca: Abdul Rozak Fachruddin (AR. Fachruddin)
Ki Bagus memimpin Muhammadiyah saat Jepang menjajah Indonesia.
Meskipun dalam kondisi sulit, Ki Bagus tetap mampu melahirkan karya-karya penting bagi Muhammadiyah.
Ia melahirkan Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menjadi landasan organisasi Muhammadiyah hingga dewasa ini.
Kiprah Politik #
Di dunia politik, Ki Bagus dikenal sebagai tokoh kunci dibalik hilangnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta.
Saat itu, perwakilan dari Indonesia timur menolak adanya tujuh kata yang ada pada sila pertama.
Hatta dan Soekarno menyetujui untuk menghilangkan tujuh kata tersebut.
Namun, Ki Bagus tetap berusaha mempertahankannya.
Bahkan, Soekarno merasa sungkan untuk melobi Ki Bagus agar mau menghilangkan tujuh kata tersebut.
Akhirnya, Soekarno meminta Kasman Singodimejo sebagai sesama tokoh Muhammadiyah agar mau melobi Ki Bagus.
Dengan bahasa yang santun, Kasman menyampaikan keberatan orang-orang timur sekaligus usulan dari Hatta agar tujuh kata tersebut dihapus.
Akhirnya, dengan berat hati, Ki Bagus merelakan tujuh kata dan menggantinya dengan "Ketuhanan Yang Maha Esa".
Baca: Haedar Nashir
Ki Bagus berpendapat bahwa yang dimaksud dalam sila pertama tersebut adalah tauhid bagi umat Islam.
Ki Bagus juga dikenal sebagai orang yang berani menentang perintah Jepang untuk membungkuk dalam upacara seikirei (ritual sujud).
Ki Bagus menganggap hal tersebut sebagai sebuah kesyirikan.
Pada tahun 1938, Ki Bagus mempelopori berdirinya Partai Islam Indonesia (PII).
Setelah kemerdekaan, Ki Bagus juga berjuang melalui Masyumi.
Pada 1943, ia bersama Soekarno dan Hatta memenuhi undangan Jepang untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.
(Tribunnewswiki.com/Yusuf)
Sumber: Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, Jakarta: KPG, 2017.
| Info Pribadi | Ketua PP Muhammadiyah |
|---|
| Tempat Tanggal Lahir | Yogyakarta, 24 November 1980 |
|---|
| Meninggal | Yogyakarta, 17 Desember 1934 |
|---|