Abdul Rozak Fachruddin (AR. Fachruddin)

Abdul Rozak Fachruddin atau lebih dikenal dengan AR. Fahruddin adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah yang paling lama menjabat. Ia menjabat selama 22 tahun sejak 1968 hingga 1990.


zoom-inlihat foto
AR-Fachruddin.jpg
Wikipedia
AR. Fachruddin

Abdul Rozak Fachruddin atau lebih dikenal dengan AR. Fahruddin adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah yang paling lama menjabat. Ia menjabat selama 22 tahun sejak 1968 hingga 1990.




  • Masa Kecil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ia lahir di Pakualaman, Jogja, 14 Februari 1916 dari pasangan KH. Fachruddin dengan Maimunah binti KH. Idris.

KH. Fachruddin adalah seorang penghulu di Puro Pakualaman. Ia berasal dari Bleberan, Brosot, Galur, Kulonprogo.

Sementara itu, Maimunah masih keturunan Raden Pakualaman.

AR menempuh pendidikan formal di Standaard School (Sekolah Dasar) Muhammadiyah Baussran, Jogja pada 1923.

Karena keadaan ekonomi, ia bersama keluarga pulang ke Galur, Kulonprogo pada tahun 1925.

Hal tersebut terjadi ketika KH. Fachruddin tidak lagi menjabat sebagai penghulu dan usaha dagang batiknya jatuh.

Selepas dari Standaard School pada tahun 1928, ia melanjtukan pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Madrasah tersebut kini menjadi salah satu madrasah tertua di Muhammadiyah, yang didirikan secara langsung oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1918.

Namun, ia hanya belajar di Muallimin selama dua tahun.

Ayahnya memanggil AR agar pulang da belajar kepada beberapa kiai di Kulonprogo, termasuk kepada ayahnya sendiri.

Di Kulonprogo, AR juga belajar secara non formal di Madrasah Wustha Muhammadiyah Kulonprogo setiap malam.

AR kemudian kembali belajar secara formal di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo pada tahun 1932.

Tiga tahun setelahnya, ia melanjutkan studi di Madarsah Tablighschool Muhammadiyah.

Di sekolah tersebut, kemampuan public speakingnya terasah dengan begitu baik.

Ia dikenal sebagai murid yang pandai sekaligus pintar mengajar atau memberi pengajian. (1)


Maka, pada tahun 1935, ia dikirim oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah ke Sumatra Selatan, tepatnya di Talangbalai, kini menjadi Ogan Komering Ilir.

Ia ditugaskan untuk mengembangkan gerakan dakwah Muhammadiyah.

Sebagai anak panah Muhammadiyah yang cerdas, ia segera mengambil kesempatan tersebut.

Sesampainya di Sumatra, AR mendirikan Sekolah Wustha Muallimin Muhammadiyah setingkat SMP.

Di Sumatra, AR mulai dikenal sebagai tokoh masyarakat.

Tak hanya mengajar sekaligus membangun sekolah, ia juga berdakwah ke berbagai daerah di pelosok Sumatra.

Baca: Gamal Abdul Nasser

Ia berdakwah di Sumatra Selatan hingga tahun 1944.

Sekembalinya ke Jogja, AR tetap aktif berdakwah.

Selain berdakwah, ia tetap belajar kepada tokoh-tokoh awal Muhammadiyah sepertiKH. Syuja', Ahmad Badawi, KRH. Hadjid, Ki Bagus Hadikusumo, dan lain-lain.

Dalam menyampaikan pengajian, AR dikenal mampu memberikan humor-humor segar kepada jamaah. Sehingga jamaah begitu menyukai pengajian AR.

Ia juga sering memberikan perumpamaan-perumpamaan untuk memudahkan pemahaman jamaah.

Salah satu perumpamaan AR yang paling terkenal adalah ketika Presiden Soeharto memaksakan asal tunggal pancasila kepada seluruh ormas.

Sebagian ormas Islam, termasuk Muhammadiyah dan NU sempat berpolemik dengan paksaan tersebut.

AR, dengan segala kebijakannya, menganalogikan pancasila seperti helm.

Ketika seseorang berkendara, maka ia harus menggunakan helm.

Sehingga, dasar dari Muhammadiyah tetap Islam, namun menggunakan pengaman bernama Pancasila.

Karena perumpamaan tersebut, seluruh warga Muhammadiyah kemudian menerima pancasila sebagai asas tunggal.

Karena kepiawaiannya, ia dipercaya untuk menjadi Ketua Umum PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

Setelah itu, ia kembali dipercaya untuk mengetuai PW Muhammadiyah DIY.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 tahun 1968, AR mendapatkan suara terbanyak. Namun, ia menolak untuk menjadi Ketua Umum.

Saat itu, ia mempersilahkan KH. Faqih Usman untuk menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Baca: Muhammadiyah

Namun, beberapa hari setelah terpilih, KH. Faqih Usman jatuh sakit dan meninggal dunia.

Tokoh-tokoh Muhammadiyah, termasuk Buya Hamka, secara langsung menunjuk AR untuk menggantikan KH. Faqih Usman.

Akhirnya, resmilah AR. Fachruddin memimpin Muhammadiyah.

  • Kesederhanaan


AR. Fachruddin dikenal sebagai seorang tokoh masyarakat yang zuhud.

Sampai meninggalnya, ia tidak memiliki rumah sendiri.

Dalam berdakwah, Pak AR hanya menggunakan sepeda.

Sebagai orang nomor satu di organisasi Islam yang sangat kaya, banyak orang menaruh simpati.

Pengusaha batik bernama Prawiro Yuwono kemudian memberikan motor Yamaha butut keluaran 1970an.

Motor tersebut yang kemudian digunakan oleh Pak AR untuk berdakwah ke berbagai tempat.

Awal tahun 1980 an, perwakilan PT Astra datang menawarkan mobil Toyota Corolla DX keluaran terbaru secara cuma-cuma.

Dengan segala kezuhudannya, Pak AR menolak. (2)

Selain Astra, banyak pihak yang ingin memberikan Pak AR mobil. Namun ia selalu menolak.

Bahkan, Pak AR memilih berjualan bensin eceran di depan tempat tinggalnya.

Ia selalu menolak ketika diberikan uang ketika mengisi pengajian.

Kalaupun harus ia terima, maka ia akan memberikan uang tersebut ke karyawan kantor PP Muhammadiyah.

Meskipun AR sangat zuhud, ia juga dikenal sangat dekat dengan Presiden Soeharto.

Bahkan, AR tidak pernah sungkan untuk meminta Soeharto untuk turun tahta, jauh sebelum tahun 1998.

Tidak hanya berdakwah di masjid-masjid, AR juga berdakwah di kalangan PSK.

Suatu ketika, salah satu mahasiswa yang tinggal di kos di Jl. Cik Ditiro 19A melihat AR masuk ke area prostitusi Pasar Kembang, Jogja.

AR adalah bapak kos di kos tersebut.

Karena kaget dan curiga, mahasiswa tersebut mengikuti langkah AR diam-diam.

Namun, ia kaget bukan kepalang karena ternyata AR mengadakan pengajian di area Pasar Kembang tersebut.

Baca: Haedar Nashir

  • Wafat



Pak AR wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta pada Jumat, 17 Maret 1995 di usia ke 79.

Ia meninggal setelah mengalami perawatan intensif karena vertigo, pembengkakan jaringan, dan leukemia selama tiga pekan.

Sebelum meninggal, Presiden Soeharto bersama beberapa menteri sempat membesuk.

Setelah meninggal, Presiden Soeharto memesan sebuah pesawat hercules untuk membawa jenazah Pak AR ke Jogja.

Sebelum kedatangan jenazah, ribuan pelayat dari berbagai kalangan telah memenuhi Masjid Agung Kauman, Jogja.

Ribuan pelayat tersebut meluber hingga ke berbagai sisi alun-alun.

(Tribunnewswiki/Yusuf)



Info Pribadi Ketua Umum PP Muhammadiyah ke-11
TTL Yogyakarta, 14 Februari 1916
Meninggal Jakarta, 17 Maret 1995
   


Sumber :


1. muhammadiyah.or.id
2. rahma.id








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved