Mengenal 10 Jenis Vaksin Covid-19 yang Diizinkan untuk Digunakan di Indonesia

Dengan tambahan tersebut, maka kini ada 10 jenis vaksin Covid-19 di Indonesia yang telah mendapat EUA dari BPOM.


zoom-inlihat foto
vaksin-booster.jpg
Dok. Kementerian Kesehatan
Pada Jumat (16/7/2021) Kementerian Kesehatan memulai penyuntikan perdana vaksin booster menggunakan vaksin Moderna di RSCM Jakarta. Penerima vaksinasi booster adalah 50 Guru Besar FKUI serta sejumlah dokter lainnya.(Dok. Kementerian Kesehatan)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM kembali menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk satu jenis vaksin Covid-19 di Indonesia pada 7 Oktober 2021.

Dengan tambahan tersebut, maka kini ada 10 jenis vaksin Covid-19 di Indonesia yang telah mendapat EUA dari BPOM.

Maka, keberadaan vaksin tersebut menjadi alternatif untuk digunakan dalam program vaksinasi kepada masyarakat demi meningkatkan target cakupan vaksinasi.

Berikut 10 jenis vaksin Covid-19 yang telah mendapat izi penggunaan darurat dari BPOM, dikutip dari Kompas.com :

1. Sinovac

Vaksin Sinovac merupakan vaksin Covid-19 pertama di Indonesia yang mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM. 

Izin penggunaan darurat terhadap Sinovac diberikan berdasarkan uji klinis BPOM  yang dilakukan di Bandung.

Dari hasil analisis terhadap uji klinis fase III di Bandung tersebut menunjukkan efikasi vaksin Covid-19 Sinovac sebesar 65,3 persen.

Seorang pekerja medis menunjukkan botol vaksin Biotek Sinovac melawan virus corona COVID-19 di pusat perawatan kesehatan di Yantai, di provinsi Shandong, China timur pada 5 Januari 2021.
Seorang pekerja medis menunjukkan botol vaksin Biotek Sinovac melawan virus corona COVID-19 di pusat perawatan kesehatan di Yantai, di provinsi Shandong, China timur pada 5 Januari 2021. (STR / AFP)

2. Vaksin Covid-19 Bio Farma

Seteleh Sinovac, tepatnya pada 16 Februari 2021, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero).

Vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma tersebut berasal dari bahan baku vaksin yang secara bertahap telah dikirimkan oleh Sinovac.

3. AstraZeneca

Berselang beberapa hari kemudian, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca, pada 22 Februari 2021.

BPOM memberikan izin penggunaan darurat untuk AstraZeneca berdasarkan evaluasi bersama Komite Nasional Penilai Obat dan pihak lainnya.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca dan University of Oxford ini memiliki efikasi sebesar 62,1 persen, dan diberikan secara intramuskular dengan dua kali penyuntikan.

Kantor perusahaan farmasi dan biofarmasi multinasional Inggris-Swedia AstraZeneca PLC di Macclesfield, Cheshire, Inggris.
Kantor perusahaan farmasi dan biofarmasi multinasional Inggris-Swedia AstraZeneca PLC di Macclesfield, Cheshire, Inggris. (Paul ELLIS / AFP)

4. Sinopharm

Pada 29 April 2021, BPOM mengeluarkan EUA untuk vaksin Covid-19 Sinopharm, yang  didistribusikan oleh PT.Kimia Farma dengan platform inactivated virus atau virus yang dimatikan.

Lewat hasil evaluasi, pemberian vaksin sinopharm dua dosis dengan selang pemberian 21 hari menujukkan profil keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik.

Baca: Cara Cek Sertifikat Vaksin Covid-19 hingga Menggunakan Aplikasi PeduliLindungi

Baca: Apakah Anak di Bawah 12 Tahun Sudah Boleh Divaksin Covid-19? Dokter Reisa Berikan Penjelasan

5. Moderna

Vaksin Covid-19 Moderna menunjukkan efikasi vaksin Moderna sebesar 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun.

Namun, efikasi vaksin Moderna menurun menjadi 86,4 persen untuk usia di atas 65 tahun.

Hasil uji klinis menyatakan vaksin Moderna aman untuk kelompok masyarakat dengan komorbid atau penyakit penyerta seperti paru kronis, jantung, obesitas berat, diabetes, penyakit lever hati, dan HIV.

6. Pfizer

BPOM menerbitkan EUA untuk vaksin Covid-19 Pfizer pada 15 Juli 2021, yang menunjukkan efikasi sebesar 100 persen pada usia remaja 12-15 tahun, kemudian menurun menjadi 95,5 persen pada usia 16 tahun ke atas.

Vaksin Pfizer diberikan secara intramuskular dua kali penyuntikan, lewat dosis yang diberikan sebesar 0,3 ml dengan interval minimal pemberian antar dosis yaitu 21-28 hari.

Ilustrasi vaksin Covid-19 produksi Pfizer/BioTech.
Ilustrasi vaksin Covid-19 produksi Pfizer/BioTech. (PA VIA DAILY STAR)

7. Sputnik V

BPOM menerbitkan EUA untuk vaksin Covid-19 Sputnik untuk kelompok usia 18 tahun ke atas.

Vaksin ini diberikan lewat injeksi intramuscular dengan dosis 0,5 mL untuk 2 kali penyuntikan dalam rentang waktu 3 minggu

Berdasarkan efek samping dari penggunaan Sputnik v merupakan efek samping dengan tingkat keparahan ringan atau sedang seperti flu yang ditandai dengan demam, menggigil, nyeri sendi, nyeri otot, badan lemas, ketidaknyamanan, sakit kepala, hipertermia, atau reaksi lokal pada lokasi injeksi.

8. Janssen

BPOM baru-baru ini mengumumkan EUA terhadap vaksin Covid-19 yang diproduksi Johnson & Johnson, yaitu Janssen Covid-19 Vaccine.

Vaksin Janssen digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas dengan pemberian sekali suntikan sebanyak 0,5 mL secara intramuscular.

9. Convidecia

EUA terhadap vaksin Covid-19 yang diproduksi CanSino, yang dikembangkan oleh CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology juga dengan platform Non-Replicating Viral Vector menggunakan vector Adenovirus (Ad5).

Vaksin Covid-19 Convidecia juga digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas dengan pemberian sekali suntikan sebanyak 0,5 mL secara intramuskular.

Efikasi vaksin Convidecia untuk perlindungan pada semua gejala Covid-19 adalah sebesar 65,3 persen.

Untuk perlindungan terhadap kasus Covid-19 berat, efikasi mencapai 90,1 persen.

10. Zifivax

Zifivax diumumkan oleh BPOM pada hari Kamis (7/10/2021), dikembangkan dan diproduksi oleh Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical dengan platform rekombinan protein sub-unit.

Vaksin Zifivax diberikan untuk usia 18 tahun ke atas sebanyak 3 kali suntikan secara intramuskular dengan interval pemberian 1 bulan dari penyuntikan pertama ke penyuntikan berikutnya.

Dosis vaksin yang diberikan pada setiap kali suntikan adalah 25 mcg (0,5 mL).

Dari hasil uji klinik yang dilakukan, pemberian vaksin Zifivax secara umum dapat ditoleransi dengan baik.

Efek samping lokal yang paling sering terjadi adalah sakit kepala, kelelahan, demam, nyeri otot (myalgia), batuk, mual (nausea), dan diare dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)

 





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved