Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Slamet Riyadi adalah tentara Indonesia dan pahlawan nasional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah.
Ia lahir di Donokusuman, Surakarta, pada 28 Mei 1926.
Slamet Riyadi adalah putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta.
Ibunya bernama Soetati yang berprofesi sebagai pedagang buah.
Slamet Riyadi belajar di sekolah formal Hollandsch-Inlandsche School (HIS).
Setelah lulus dari HIS, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Kemudian ia juga belajar di Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT).
Di sana ia menjadi lulusan terbaik dan berhak menyandang ijazah navigasi.
Oleh karena itu, ia pun menjadi navigator kapal kayu yang berlayar antarpulau di Nusantara. (1)
Baca: Jenderal Soedirman
Sepak Terjang #
Pada 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu.
Slamet Riyadi dan teman-temannya yang bersekolah di sekolah pelayaran lebih memilih meninggalkan asrama dan menggendong senjata.
Ia memilih untuk pulang ke Surakarta dan melakukan perlawanan terhadap Belanda yang kala itu kembali lagi ke Indonesia untuk menjajah.
Slamet Riyadi melakukan kampanye secara gerilya melawan Belanda.
Ia adalah orang yang bertanggung jawab atas resimen 26 di Surakarta.
Ketika Agresi Militer Belanda I terjadi, Slamet Riyadi memimpin pasukannya yang berada di beberapa daerah seperti Surakarta, Ambarawa dan Semarang.
Pada September 1948, ia diangkat untuk memimpin empat batalion tentara dan satu batalion tentara pelajar.
Dua bulan kemudian, Belanda melakukan agresi militer kedua yang ditujukan kepada Yogyakarta.
Yogyakarta ditargetkan lantaran pada saat itu Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.
Untuk mengatasi hal itu, Slamet Riyadi menggunakan strategi "berpencar dan menaklukkan".
Tidak butuh lama, hanya empat hari ia bersama pasukannya berhasil menghalau pasukan kolonial Belanda.
Bahkan, pasukan yang dipimpin olehnya berhasil membunuh tujuh tentara Belanda dan menawan tiga orang Belanda.
Setelah itu terjadi gencatan senjata antara pasukan Indonesia dengan Belanda.
Saat itu juga Kota Surakarta atau Solo diserahkan kembali kepada Republik Indonesia. (2)
Menumpas Pemberontakan #
Pada 10 Juli 1950, Slamet Riyadi ditugaskan untuk menumpas pemberontakan Kapten Abdul Aziz di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori Dr. Soumokil.
Tanggal 4 November 1950, saat sedang berusaha menumpas pemberontakan RMS di Gerbang Benteng Victoria, Ambon, pasukan Slamet Riyadi bertemu segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera merah putih.
Melihat bendera tersebut, Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena ia yakin bahwa mereka adalah Tentara Siliwangi.
Namun, dugaan Slamet Riyadi salah.
Gerombolan itu adalah para pemberontak RMS yang akhirnya menyerangnya. (2)
Baca: Letjen S. Parman
Meninggal #
Slamet Riyadi meninggal dunia pada 4 November 1950.
Ia meninggal setelah dihujani tembakan oleh pasukan RMS di depan Gerbang Benteng Victoria di Kota Ambon.
Sebelum meninggal, ia sempat dilarikan ke rumah sakit.
Namun, sayangnya ketika masih berada di atas kapal di perairan Tulehu Maluku Tengah, ia meninggal dunia.
Atas permintaan dari masyarakat setempat, jenazah Slamet Riyadi dimakamkan di Tulehu.
Untuk mengenang perjuangannya itu dibangunlah Monumen Slamet Riyadi di kota kelahirannya, Surakarta.
Selain itu, pada 9 November 2007 ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Ia juga mendapat anugerah Bintang Maha Putra Adi Perdana. (2)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
| Nama | Slamet Riyadi |
|---|
| Lahir | Donokusuman Surakarta pada 28 Mei 1926. |
|---|
| Profesi | Tentara Nasional Indonesia |
|---|
| Meninggal | 4 November 1950 |
|---|
Sumber :
1. www.kompas.com
2. biokristi.sabda.org