Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Salim Kancil adalah petani sekaligus aktivis lingkungan yang dibunuh setelah menentang pertambangan pasir ilegal di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur.
Ia lahir pada 22 April 1969. Istrinya bernama Tijah dan tinggal bersama Salim Kancil.
Nama Salim menjadi buah bibir setelah ia dibunuh karena memimpin perlawanan terhadap penambangan pasir yang ada di desanya. (1)
Baca: Marsinah
Latar Belakang #
Salim Kancil adalah petani yang menggarap lahan miliknya sebagai mata pencaharian utama.
Suatu hari, delapan petak lahannya itu rusak karena adanya aktivitas penambangan pasir ilegal di desanya.
Penambangan ilegal itu dilakukan oleh orang-orangnya Kepala Desa Selok Awar-Awar, Haryono.
Kehadiran tambang pasir yang makin merebak di desanya sudah dirasakan warga merusak lingkungan setempat.
Saluran irigasi persawahan rusak, padi tak bisa ditanam akibat air laut menggenangi persawahan setelah pesisir terus dilakukan pengurukan pasir.
Akibat dari pertambangan ilegal itu, pendapatan Salim sebagai petani menurun drastis.
Karena hal itu, ia pun sempat beralih profesi sebagai nelayan.
Namun, pekerjaan sebagai nelayan itu tidak berlangsung lama, dan Salim memilih kembali menjadi petani.
Kemudian ia mengajak teman-temannya untuk melakukan perlawanan. (2)
Baca: Affandi Koesoema
Aksi Damai #
Salim dan teman-temannya mencoba mencari dukungan dengan melaporkan kejadian itu kepada aparat kepolisian.
Namun, sayangnya laporan itu tidak ditanggapi.
Tidak hanya itu, ia bersama teman-temannya itu juga mengirimkan surat kepada pemerintah daerah, provinsi, dan pusat.
Namun, lagi-lagi hal itu tidak mendapat tanggapan.
Akhirnya ia bersama dengan teman-temannya itu membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar.
Anggota dari Forum tersebut ada 12, yakni Salim Kancil, Tosan, Iksan Sumar, Ansori, Sapari, Abdul Hamid, Turiman, Muhammad Hariyadi, Rosyid, Mohammad Imam, Ridwan, dan Cokrowidodo.
Baca: Munir Said Thalib
Pada Juni 2015, mereka mengirimkan surat kepada Bupati Lumajang As'at Malik untuk meminta audiensi tentang penolakan tambang pasir, tapi tidak mendapatkan tanggapan.
Pada 9 September 2015 Salim dan teman-temannya itu melakukan aksi damai dengan cara memberhentikan aktivitas penambangan pasir dan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar.
Aksi tersebut menghasilkan surat pernyataan dari Kepala Desa Selok Awar-Awar untuk menghentikan penambangan pasir.
Namun, pada hari itu, Salim dan teman-temannya yang menolak tambang pasir ilegal itu mulai mendapat ancaman pembunuhan.
Pada 25 September 2015 mereka mengumumkan akan melakukan aksi kembali pada besoknya, 26 September 2015 pukul 07.30.
Pada 26 September 2015 aksi tersebut dilakukan dengan menyebar selebaran penolakan tambang ilegal.
Aksi tersebut kemudian diketahui salah satu orang, Haryono.
Haryono pun menginstruksikan sejumlah preman untuk mendatangi lokasi tersebut.
Salim dan Tosan adalah orang yang menjadi pentolan dalam aksi itu.
Namun. Tosan beruntung karena ia bisa lolos dari maut lantaran pura-pura meninggal dunia ketika mendapat siksaan. (2)
Baca: Siti Rukiah Kertapati
Meninggal Dunia #
Setelah melakukan aksi protes, pada 26 September 2015, Salim didatangi 40 preman yang dikirim oleh Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang, Hariyono.
Sebanyak 40 preman itu kemudian menganiaya Salim Kancil dengan batu, kayu, dan senjata tajam.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Salim kemudian diseret sejauh dua kilometer menuju balai desa.
Di sana ia kembali dianiaya hingga tewas. (1)
Baca: Pramoedya Ananta Toer
Vonis Hukum #
Setelah kasus pembunuhan itu mencuat ke permukaan.
Kemudian dua dalang pembunuhan itu, yakni Kepala Desa Selok Awar-Awar Haryono dan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Selok Awar Awar Mat Dasir ditangkap.
Keduanya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.
Mereka dinilai terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. (1)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
| Nama | Salim Kancil |
|---|
| Lahir | 22 April 1969 |
|---|
| Profesi | Petani |
|---|
| Pasangan | Tijah |
|---|
| Meninggal | 26 September 2015 |
|---|
Sumber :
1. nasional.kompas.com
2. id.wikipedia.org