Bahkan muncul petisi untuk memboikot Saipul Jamil dari televisi maupun YouTube.
Kemunculan mantan narapidana pedofilia di televisi dikhawatirkan dapat memicu trauma dari korban.
Baca: Diboikot Masuk TV, Saipul Jamil Santai : Haters Sesaat, Tak Halangi Karier
Sebelumnya juga KPI memperbolehkan Saipul tampil di televisi untuk mengedukasi pelecehan seksual.
Pernyataan ini langsung mendapat protes keras dari berbagai pihak.
Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra menilai keputusan KPI saat itu malah seakah tidak memperdulikan korban.
"Ketika memutuskan SJ menjadi edukator, tentunya akan berhadapan dengan masyarakat pemerhati, masyarakat peduli, para korban, keluarga korban, yang tidak mudah diterima masyarakat tentunya," ujar Jasra dalam keterangannya, Sabtu (11/9/2021).
Munculnya SJ di layar kaca dikhawatirkan akan membangkitkan trauma korban.
Menurut Jasra, keluarga korban membutuhkan keberpihakan dari pelbagai pihak dan masyarakat.
"Di antara yang paling penting menghindari trauma korban. Ini yang harusnya menjadi pertimbangan yang dikedepankan semua pihak," ucapnya.
Anak-anak membutuhkan informasi yang layak yang dapat mendukung tumbuh kembang dan kesejahteraannya, sehingga terhindar dari perlakuan salah.
"Jangan sampai ada anggapan peristiwa pedofilia menjadi peristiwa biasa, bukan kejahatan yang harus menjadi perhatian semua pihak," imbuh Jasra.
Baca artikel lainnya tentang Saipul Jamil di sini
(Tribunnewswiki.com/Saradita, Tribunnews.com/Bayu Indra Permana/Dennis Destryawan)