Sosok Ustaz Armand
Ketua RW setempat, Mangku, mengungkap sosok Ustaz Armand.
Ia menuturkan korban adalah Ketua Majelis Taklim Masjid Jami Nurul Yakin.
"Beliau orangnya sangat baik," ujar Mangku saat dijumpai di rumah duka, Minggu (19/9/2021).
Ia mengaku, di mata para tetangga, korban adalah orang yang pendiam dan tidak punya masalah.
"Ya tidak banyak omong, sering saling bantu tetangga juga," ucapnya.
Mangku menyebut bahwa Ustaz Armand juga sebagai paranormal dan kerap kali mengobati orang secara spiritual.
"Kalau paranormal sudah lama dijalaninya. Bahkan sejak dia muda," papar Mangku.
Meski begitu, selama pandemi Covid-19, korban memang jarang ada tamu dan sangat sedikit yang berkunjung untuk berobat.
"Sepi tamunya, dia juga sudah beberapa bulan ini sakit. Sakit pada bagian lambung," katanya.
Baca: Penembakan di Paris Memang Targetkan Korban, Pelaku Lepaskan Sejumlah Tembakan
Dugaan Aksi Pembunuhan Berencana
Sementara itu, menurut pakar psikologi Reza Indragiri Amriel, aksi penembakan yang menyebabkan meninggalnya Ustaz Armand diduga sebagai aksi pembunuhan berencana.
Ia menilai pelaku penembakan Ustaz Armand di Tangerang hanyalah sebatas eksekutor. Artinya, ada aktor intelektual di baliknya.
Selain itu kata Reza dari sejumlah fakta di lapangan, cukup kuat dugaan bahwa kasus ini adalah sebuah pembunuhan berencana.
"Dugaan, penembak sebatas eksekutor. Kalau begitu, berarti ada aktor intelektual atau pemesan dan pemasok senjata api," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Minggu (19/9/2021) malam.
Reza menerangkan bahwa pelaku memakai alat yang terkesan sekenanya. Seketika terbangun spekulasi bahwa orang pelaku tidak waras.
"Begitu pada kejadian-kejadian serupa sebelumnya," katanya.
Namun, lantaran pelaku kali ini menggunakan senjata api, menurut Reza, publik boleh meyakini hal tersebut sebagai pembunuhan oleh orang waras.
"Apalagi pelaku dikabarkan mondar-mandir di lokasi selama berhari-hari. Dan melihat posisi lubang pada tubuh korban, ada alasan untuk meninjau ini sebagai pembunuhan berencana," ujar Reza.
Oleh karena itu, menurutnya, saat pelaku-pelaku terdahulu disebut polisi sebagai orang tak waras saja sudah sangat mengerikan, maka saat pelaku pada kejadian mutakhir tergolong orang waras, akan "makin mengerikan".