Tari Seudati

Tari Seudati merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh.


zoom-inlihat foto
tari-seudati-3.jpg
SERAMBI/M ANSHAR
Penari menampilkan Tari Seudati pada malam penutupan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Rabu (11/5/2016) malam. Rakernas Banda Aceh memutuskan Kabupaten Halmahera Barat, Siak, Pasarawan, dan Kota Sabang sebagai anggota baru. Serta menetapkan Kota Gianyar, Bali sebagai tuan rumah rakernas JKPI 2017.

Tari Seudati merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Tari Seudati merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh.

Tarian ini menjadi tari pertunjukan dan menjadi ikon bagi Provinsi Aceh.

Tari ini berasal dari Desa Gigieng, Kecamatan Sigli, Kabupaten Pidie.

Nama Seudati berasal dari kata Syahadat yang berarti saksi atau pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Awalnya, tarian ini dilakukan dalam posisi duduk diiringi pantun-pantun yang di lakukan secara bergantian, diselenggarakan di musala-musala.

Dengan berkembangnya zaman tari Seudati mengalami perubahan yang dahulunya tarian Seudati dilakukan secara duduk sekarang dilakukan secara berdiri. (1) 

Baca: Tarian Jawa

Tari Seudati 1
Penari menampilkan Tari Seudati pada malam penutupan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Rabu (11/5/2016) malam. Rakernas Banda Aceh memutuskan Kabupaten Halmahera Barat, Siak, Pasarawan, dan Kota Sabang sebagai anggota baru. Serta menetapkan Kota Gianyar, Bali sebagai tuan rumah rakernas JKPI 2017.

  • Sejarah #


Tarian ini dipimpin oleh Syeh Ali Didoh yang berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh.

Setelah itu, tarian ini berkembang di daerah lain, salah satunya di Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh.

Seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian mulai menyebar ke daerah Aceh lainnya, hingga kini tari Seudati sudah menyebar ke semua daerah di Aceh.

Dulunya tarian ini juga digunakan oleh para tokoh agama sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam.

Namun, pada masa penjajahan Belanda tarian ini sempat dilarang. Ini karena syair yang dibawakan dalam tari Seudati ini dianggap dapat menumbuhkan semangat bagi para pemuda Aceh untuk bangkit dapat menimbulkan pemberontakan kepada Belanda.

Setelah kemerdekaan Indonesia, tarian ini kembali diperbolehkan, bahkan tidak hanya sebagai media dakwah, tetapi juga sering ditampilkan sebagai tarian pertunjukan hingga sekarang. (2) 

Baca: Tari Ngantat Dendan

Tari Seudati 2
Penari menampilkan Tari Seudati pada malam penutupan Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Rabu (11/5/2016) malam. Rakernas Banda Aceh memutuskan Kabupaten Halmahera Barat, Siak, Pasarawan, dan Kota Sabang sebagai anggota baru. Serta menetapkan Kota Gianyar, Bali sebagai tuan rumah rakernas JKPI 2017.

  • Ciri khas gerakan #



Ciri khas tarian Seudati adalah heroik, gembira, dan kebersamaan. Ketika menarikan, bagian tubuh bergerak. Gerakan-gerakan pokok pada tari Seudati yaitu:

- meloncat

- melangkah pukul dada (dhiet)

- petik jari (ketrep jaroe)

- menghentakkan kaki ke lantai (geddham kaki)

Gerakan tersebut merupakan gerak dasar dalam gerak tari Seudati.

Cara melakukan gerakan terbagi atas dua, yaitu:

1. Gerakan pemimpin yaitu syech menari terlebih dahulu kemudian penari lainnya mengikuti gerakan syech.

2. Penari melakukan tarian lebih dahulu, kemudian dikuti syech.

Bagian tari

Seudati Tari Seudati memiliki beberapa bagian dengan ciri khas masing-masing.

Adapun babak dalam tari Seudati adalah:

- Babak glong

- Babak saleum

- Babak likok

- Babak saman

- Babak kisah

- Babak cahi panyang

- Babak lanie dan penutup.

Masing-masing babak memiliki karakter kepahlawanan, kekompakan, dan ketegasan gerak tari.

Dalam tari Seudati juga memiliki beberapa pola lantai, seperti puto taloe, lidah jang, lang-leng, bintang buleun, tampong, binteh, tulak angen, dapu dan kapai teureubang. (1)

Baca: Tari Bopureh

  • Pengiring #


Tari Seudati tidak menggunakan alat musik eksternal, melainkan membunyikan petikan jari, hentakan kaki, tepukan di dada serta syair-sayair yang dilantunkan oleh dua narator yang disebut Aneuk Syahi.

Tari Seudati umumnya dilakukan oleh 10 orang yang terdiri dari:

- Pemimpin penari yang disebut syech

- Pembantu pemimpin disebut apet

- Penari sebelah kiri yang disebut apeetwie

- Penari di belakang yang disebut apeet bak

- Empat orang penari yang disebut aneuk Seudati

Penampilan tari ini di awali dengan barisan berjumlah empat-empat, kemudian syech berada pada banjar pertama nomor dua dari kanan, sedangkan apet berada di sebelah kiri syech.

Pada sudut pentas bagian depan kiri beridri dua orang aneuk syahi sebagai pengiring tari. (1)

Baca: Tari Tortor

  • Busana #


Pakaian tari Seudati terbuat dari sutera.

Untuk celana berwarna gelap atau hita, untuk baju kemeja lengan panjang dan tangkuluk kasab terbuat dari kain kasab.

Dilengkapi dengan kain sarung atau kain sungket dibagian pinggang hingga batas sejengkal di atas lutut. Kemudian menggunakan ikat pinggang.

Tari Seudati juga mennggunakan rencong yang diselipkan pada kain sungket di samping pinggang kiri. Rencong dilambangkan keperkasaan dan kepahlanwanan. (1)

Baca: Tari Selamat Datang

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



Asal Desa Gigieng, Kecamatan Sigli, Kabupaten Pidie.
Jenis Tarian Tradisional
Asal usul Nama Seudati berasal dari kata Syahadat yang berarti saksi atau pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
   


Sumber :


1. www.kompas.com
2. id.wikipedia.org


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved