Vaksin Nusantara Disepakati hanya Akan Dikembangkan untuk Penelitian, Tidak Dikomersialkan

Vaksin Nusantara disepakati akan dikembangkan untuk kepentingan penelitian dan pelayanan, dan bukan untuk dikomersialkan secara umum.


zoom-inlihat foto
Ilustrasi-vaksin-Covid-19.jpg
freepik.com
Ilustrasi vaksin Covid-19. Vaksin Nusantara hanya akan digunakan untuk penelitian.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Vaksin Nusantara yang kini menjadi polemik di tengah masyarakat akhirnya menemukan titik terang.

Sebelumnya, vaksin Nusantara menjadi bahan perdebatan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak bisa melanjutkan ke uji klinis II.

Dari situ, banyak pihak yang menginginkan vaksin ini dites terlebih dahulu pada hewan sebelum digunakan untuk manusia.

Namun, nasib vaksin yang diprakarsai oleh mantan menteri kesehatan Terawan Agus Putranto ini telah ditentukan.

Lewat nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani Kementerian Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K. Lukito, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, disepakati bahwa pengembangan vaksin itu hanya untuk kepentingan penelitian dan pelayanan, dan bukan untuk dikomersilakan.

Dalam MoU 'Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2' yang ditandatangani pada Senin, (19/4/2021), lalu itu disebutkan bahwa vaksin Nusantara yang saat ini prosesnya tengah berlanjut di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta merupakan penelitian berbasis sel dendritik untuk Covid-19.

Politikus senior Partai Golkar Aburizal Bakrie disuntik Vaksin Nusantara oleh mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto
Politikus senior Partai Golkar Aburizal Bakrie disuntik Vaksin Nusantara oleh mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto (Kompas.com)

Atas dasar itu pulalah diputuskan bahwa pengembangan vaksin Nusantara bukan uji klinis vaksin untuk dimintakan izin edar oleh BPOM.

Dalam MoU itu disepakati bahwa penelitian ini bersifat autologus. Autologus berarti penelitian hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri, sehingga tidak dapat dikomersialkan secara massal.

ā€¯Namanya sekarang penelitian melalui pelayanan, itu istilahnya," kata Kepala BPOM Penny K. Lukito, Senin (19/4/2021) malam.

Lewat penandatangan MoU itu, Penny menegaskan pihaknya hanya ikut andil memberikan pengarahan perihal proses penelitian yang sesuai dengan kaidah saintifik.

Baca: Pro Kontra Vaksin Nusantara, Ini Tanggapan Presiden Jokowi: Saya Dukung Riset

Baca: Polemik Vaksin Nusantara, Menkes Minta Ilmuwan Berhati-hati: Kalau Ada Apa-Apa Bagaimana?





Halaman
1234






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved