Ratusan pengunjuk rasa ditangkap, media lokal melaporkan.
AS mengecam kekerasan mematikan terbaru junta terhadap pengunjuk rasa dan menyerukan tindakan yang lebih global.
"Kami terkejut dan muak melihat kekerasan mengerikan yang dilakukan terhadap orang-orang Burma atas seruan damai mereka untuk memulihkan pemerintahan sipil," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price, menggunakan nama lama Myanmar.
Baca: Jutaan Rakyat Myanmar Memulai Pemogokan Umum Hadapi Ancaman Represif Penguasa Militer
"Kami menyerukan semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mengutuk kekerasan brutal oleh militer Burma terhadap rakyatnya sendiri," katanya kepada wartawan.
Myanmar berada dalam kekacauan sejak 1 Februari ketika militer merebut kekuasaan melalui kudeta dan menahan sebagian besar kepemimpinan sipil negara itu, termasuk pemimpin Aung San Suu Kyi.
Militer membenarkan pengambilalihan tersebut dengan klaim penipuan pemilih yang tidak berdasar dalam pemilihan November 2020 yang mengembalikan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi ke tampuk kekuasaan.
Perebutan kekuasaan telah memicu kecaman internasional yang meluas serta demonstrasi nasional yang menuntut kembalinya pemerintahan sipil.
(tribunnewswiki.com/hr)