Dubes Myanmar untuk PBB Dipecat, Dianggap Berkhianat karena Bersumpah Bakal Perangi Junta Militer

Kyaw Moe Tun bersumpah akan perangi kudeta Militer, hingga kini PBB masih menganggap dirinya perwakilan Myanmar.


zoom-inlihat foto
update-myanmar-03.jpg
SAI AUNG MAIN / AFP
ILUSTRRASI SUASANA di Myanmar --- FOTO: Seorang pengunjuk rasa memegang tanda saat mereka berhadapan dengan barisan polisi di ujung jalan selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 26 Februari 2021.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Duta Besar Myanmar untuk PBB, Kyaw Moe Tun dipecat karena dianggap mengkhianati Junta Militer.

Hal itu dikabarkan di televisi Myanmar, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (28/1/2021).

Sehari sebelumnya, dia bersumpah akan memerangi kudera militer.

"Saya memutuskan untuk melawan (kudeta militer) selama yang saya bisa," ujar Kyaw Moe Tum kepada Reuters pada Sabtu (27/2/2021).

Kendati demikian, pihak PBB masih menganggap Kyaw Moe Tum sebagai duta besar.

Pasalnya mereka belum menerima komunikasi apa pun dari Myanmar.

Apa lagi mereka juga tak mengakui Junta Militer sebagai pemerintahan yang baru Myanmar.

"Kami belum menerima komunikasi apa pun mengenai perubahan perwakilan Myanmar di PBB di New York," terang juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Rakyat Melawan Militer dengan Humor

Para migran Myanmar di Thailand memprotes kudeta militer di negara asalnya, di depan gedung ESCAP Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bangkok pada 21 Februari 2021.
Para migran Myanmar di Thailand memprotes kudeta militer di negara asalnya, di depan gedung ESCAP Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bangkok pada 21 Februari 2021. (Lillian SUWANRUMPHA / AFP)

Baca: Mereka Bukan Tentara atau Polisi, Mereka Teroris: Seorang Wanita Pendemo Myanmar Ditembak Mati

Myanmar tengah dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran selama beberapa waktu terakhir.

Publik menentang kudeta yang dilakukan pihak militer terhadap pemerintahan Aung San Suu Kyi, pada Senin (1/2/2021) silam.

Para demonstran membawa berbagai spanduk dengan tulisan yang kreatif dan lucu.

"Mantanku buruk, tapi militer lebih buruk," tulis seorang perempuan di Twitter.

"Aku tidak ingin diktator, aku hanya ingin kekasih," tulis warga dalam spanduk lainnya.

Khoo Ying Hooi adalah dosen senior di Universitas Malaya di Kuala Lumpur yang mempelajari protes dan gerakan sosial.

Hooi menjelaskan pada Business Insider bahwa meme adalah cara bagi gerakan perlawanan untuk menarik perhatian dan menandakan niat non-kekerasan mereka.

"Pandemi itu sendiri tidak menawarkan lingkungan yang 'ramah' untuk mengumpulkan banyak orang," katanya.

Baca: Didemo Besar-besaran, Militer Myanmar Dekati Muslim Rohingya, Padahal Dulu Tega Lakukan Pembantaian

Baca: Penguasa Militer Tak Sangka Jutaan Rakyat Myanmar Berani Turun ke Jalan Protes Aksi Kudeta

Menggunakan humor adalah "tanda yang menunjukkan bahwa mereka memilih pendekatan tanpa kekerasan dalam protes."

Dengan kata lain, menggunakan meme adalah cara yang bagus untuk memenangkan hati dan pikiran.

“Ketika taktik kreatif ini menyusup ke dalam wacana arus utama seperti pemberitaan, maka potensi masyarakat untuk menumbuhkan solidaritas lebih tinggi dan dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada perubahan sistemik,” ujarnya.





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved