Andreas Hugo Pareira

Andreas Hugo Pareira merupakan politisi PDI Perjuangan yang lahir di NTT dan sempat menjadi dosen.


zoom-inlihat foto
andreas-hugo-pareira-2.jpg
Dokumen Pribadi Andreas Hugo Pareira
Andreas Hugo Pareira

Andreas Hugo Pareira merupakan politisi PDI Perjuangan yang lahir di NTT dan sempat menjadi dosen.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - “Untuk terjun ke dunia politik perlu proses. Jangan berpikir untuk instant menjadi politisi, hanya untuk memperoleh berbagai jabatan politik.”

Demikian anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira mengatakan ketika berbincang-bincang dengan Tribunnews.com, pada akhir Februari 2021.

Seakan pernyataan itu juga mewakili perjuangan pria kelahiran Flores, NTT, 31 Mei 1964 lalu itu meniti karir politik di kandang Banteng dan duduk sebagai Wakil Rakyat di Senayan.

Tak ada darah dan latar belakang politikus dalam keluarganya.

Baca: Artidjo Alkostar

  • Andre dibesarkan dalam keluarga guru.


Dia dilahirkan dari rahim sang Ibu Maria Priscilla da Silva di Kota Maumere, Kabupaten Sikka dalam deburan suara lautan biru Teluk Maumere. Ayahnya Guru Jeremias Pareira yang berasal dari kampung Sikka adalah kepala sekolah pada SMP Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) yang didirikan oleh Raja Sikka Don Thomas Ximenes da Silva.

Untuk diketahui Yapenthom adalah salah satu Sekolah Menengah Pertama tertua di Pulau Flores, didirikan pada 1949 silam.

Andre kecil yang lahir genetik dalam keluarga pendidik tumbuh menjadi seorang anak yang terbiasa dengan lingkungan pendidikan. Ayahnya mengirim Andre masuk ke SD Katolik I Maumere pada tahun 1970.

Namun di tengah kebahagiaan masa kecilnya, Andre harus berduka, ditinggal ibunda yang dikasihi dan sangat mengasihinya. Sang Ibunda Maria Priscilia da Silva meninggal dunia pada saat Andre berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas empat SD.

Walau ditinggal sang ibu sejak usia sembilan tahun, Andreas Hugo tidak mengenal rasa gentar dan menyerah.

Perjalanan Andre berlanjut. Ayahnya, mengirimkan Andre masuk ke SMP Seminari Yoanes XXII pada Januari 1976. Sekolah dan asrama pendidikan calon pastor ini terletak di samping Gereja Katolik di kampung Lela, dua puluh empat kilo meter dari Kota Maumere— tak jauh dari deburan ombak Pantai Selatan kampung Sikka, tempat asal nenek moyang Andre.

Di Seminari, Andre belajar untuk hidup mandiri dalam komunitas asrama yang berdisiplin tinggi, sambil mengasah intelektualitas dan kerohanian.

“Seminari merupakan kawah Candradimuka yang menempa diri saya dari seorang anak menjadi remaja yang siap menempuh kehidupan masa depan,” tutur anggota Komisi DPR RI ini.

Tiga tahun empat bulan Andre mengenyam pendidikan di SMP Seminari Yoanes XXIII Lela. Dia tamat pada April 1979—meninggalkan seminari Lela dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke SMA Seminari di Mataloko Ngada.

Baca: Anies Baswedan

  • Andre pulang ke rumahnya di Kota Maumere.


Andre ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Andre memilih meninggalkan kota kelahirannya Maumere, dan berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu dan pengalaman.

Seturut pesan Bung Karno, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” Andreas Hugo juga bercita-cita tinggi dan dibarengi kerja keras untuk mengapai cita-citanya menjadi manusia terdidik yang cerdas agar bisa berkelana ke belahan dunia lain demi melihat dan menemukan pengalaman baru sebagai bekal kehidupannya. Itulah cita-citanya.

Atas restu dari sang ayah, pada Mei 1979, Andre memulai kehidupan baru di luar pulau Flores.

Andre harus berangkat menyeberang pulau seorang diri tanpa didampingi oleh orang tuanya. Ayahnya tercinta, hanya mengantar Andre sampai di Dermaga Sadang Bui (sekarang Dermaga Lorens Say).

Saat itu Andre kecil berusia lima belas tahun, masih dengan celana pendek, bermodalkan satu ransel pakaian dan sedikit uang dari orang tua, ia menumpang Kapal laut Perintis Niaga XIII menuju Surabaya.

Setibanya di Surabaya, Jawa Timur, Andre melanjutkan perjalananya ke Jakarta. Ia tinggal di rumah paman, adik ayahnya di Jakarta.

Pada Juli 1979 dia menjadi siswa di SMA St. Fransiskus Asisi di Tebet. Di sekolah ini, dia menjadi remaja yang hidup di Metropolitan Jakarta di era Presiden Suharto berkuasa.

Meskipun dari SMP di kampung, Andre tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam hal belajar maupun bergaul dengan teman sekolahnya.

Andre melanjutkan kuliah di Universitas Katolik Parahyangan, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional, setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Asisi Tebet Jakarta pada Juli 1982.

Selain belajar teori-teori ilmu sosial dan ilmu politik di bangku kuliah, Andre juga terlibat aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Bahkan dia sempat menjadi wakil ketua Senat Mahasiswa Fisip Unpar 1984-1985.

Sementara di luar kampus, Andre aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sejak 1984. Dia tekun mengasah diri di jalur kritis di luar mainstream politik yang didominasi oleh kekuasaan bedil Tentara dan represi rezim Orde Baru.

Andre menamatkan dan mendapatkan gelar sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu politik di Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1986.

Pamannya yang adalah pejabat di salah satu Kementerian di Jakarta, mendorong Andre untuk melamar ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).

Bukan hanya sang paman, Ben Mang Reng Say, salah seorang tokoh nasional asal NTT, mantan Wakil Ketua DPR RI, Dubes RI untuk Portugal yang saat itu sedang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA RI) pun memberikan rekomendasi agar Andre melamar ke Kementerian Luar Negeri. Mengingat disiplin ilmu yang digelutinya adalah hubungan internasional.

Namun Andre memilih jalannya sendiri untuk tetap berada di luar jalur pemerintahan, di luar rezim Orde Baru.

Baca: Arief Puyuono

  • Mimpi ke Luar Negeri yang Tercapai


Andre kecil sudah punya cita-cita ke luar negeri untuk melihat dunia yang lain dan mencari pengalaman baru.

Tidak mudah bagi Andre untuk mewujudkan cita-cita itu.

Orang tuanya tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Jangankan ke luar negeri, untuk kuliah di Jawa saja orang tuanya harus berhemat dan Andre sendiri pun berupaya memperoleh beasiswa dari kampusnya.

Saat itu, ada dua profesi yang menurut Andre sesuai dengan latar belakang keilmuannya dan berpeluang besar untuk memberinya kesempatan studi di luar negeri, yaitu dosen atau wartawan.

Untuk menggapai itu, Andre sempat menjadi penulis artikel untuk beberapa media. Dia juga berkesempatan ikut test di Harian Kompas dan lulus, tetapi pada saat yang bersamaan dia diterima menjadi asisten dosen di alma maternya, Universitas Katolik Parahyangan.

Pada Januari 1988, Andre memulai karirnya sebagai dosen di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Doa dan cita-cita Andre untuk melihat dunia yang lain dan pengalaman yang lain, dijawab oleh Tuhan. Pada April 1992, dia berangkat ke Jerman, setelah mendapatkan beasiswa dari KAAD (Katholischer Akademischer Auslaender Dienst).

KAAD adalah yayasan yang didirikan oleh konsorsium Uskup-uskup Jerman atau semacam Komferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Sebelum berangkat ke Jerman, pada Januari 1992, Andre mempersunting kekasihnya, Chatarina Veronika Dwi Indarwati Pareira, yang juga adalah dosen di Fisip Universitas Parahyangan.

Bak durian runtuh, bukan hanya dirinya yang mengenyam pendidikan di Jerman, tetapi juga sang istri tercinta pun memperoleh beasiswa dari KAAD untuk studi S2 di Universitaet Konstanz.

Di Jerman, Andre belajar di Universitaet Pasau, pada bidang studi Asia Tenggara, Sosiologi dan Politik pada Profesor Bernard Dahm.

Bernard Dahm adalah seorang Indonesianist atau ahli Indonesia generasi pertama di Eropa, yang menulis disertasi doktoralnya tentang Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Sukarno’s Kampf um die indonesische Unabhaengigkeit).

Selama studi di Jerman, putra tunggalnya lahir di kota Konstanz dan diberi nama Christian Satriadamai Pareira.

Menjelang akhir tahun 1995, Andre menyelesaikan thesis dan pada Januari 1996 lulus ujian thesis dengan predikat memuaskan. Dia resmi menyandang gelar Magister Artium (MA) bidang Politik di Asia Tenggara.

Usai menamatkan studinya, Andre sempat kerja serabutan beberapa bulan di Konstanz sembari menunggu istri tercinta menyelesaikan ujian.

Akhirnya pertengahan tahun 1996, Andre, istri dan putranya kembali ke tanah air. Andre kembali mengabdi di almamaternya, Universitas Parahyangan.

Andreas Hugo Pareira bersama istri dan anaknya.
Andreas Hugo Pareira bersama istri dan anaknya.


Selain mengajar, darah aktivis politik yang kuat mengalir mendorong dirinya terjun dalam dunia politik praktis.

Dia bertemu dan berkumpul kembali dengan rekan-rekannya sewaktu aktif di GMNI. Bersama rekan-rekannya, mereka kompak bersatu mendukung penuh perjuangan Megawati dan bergabung dengan PDI Pro Mega Jawa Barat.

Militansi, loyalitas dan kompetensi akademisnya membuat Andre kemudian menjadi Sekretaris Litbang DPD PDI Pro Mega Jawa Barat. Praktis dalam semua kegiatan partai dia terlibat langsung, dan itu terus berjalan hingga dia terpilih menjadi fungsionaris DPD PDI Pro Mega.

Seiring dengan itu Andre juga dipercaya menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan di kampus.

Andre mengenai saat Mei 1998 sebelum runtuhnya rezim Suharto, ia memotori mengundang tokoh-tokoh politik pro reformasi seperti Sabam Sirait dan Marsilam Simanjuntak masuk ke kampusnya dan berorasi di depan mahasiswa yang siap turun aksi ke jalan.

Menjelang minggu ketiga Mei 1998, situasi politik semakin panas, kampus Parahyangan pun menjadi salah satu basis gerakan reformasi sampai dengan jatuhnya rezim Suharto pada tanggal 2I Mei 1998. Runtuhnya rezim Suharto disambut dengan tempik sorak genderang kemenangan di kampus-kampus pro-reformasi.

Berakhirnya era Suharto, Andre kembali menjalankan tugas akademis di kampus.

Sementara di PDI Pro Mega yang bermetamorfosa menjadi PDI Perjuangan, Andre dipercaya menjadi sekretaris Pappuda (Panitia Pemenangan Pemilihan Umum Daerah) PDI Perjuangan Jawa Barat.

Andreas Hugo Pareira
Andreas Hugo Pareira

Berjalan hidup Andre berlanjut. Meski sebagai sekretaris Pappuda PDI Perjuangan Jawa Barat, Andre memilih tidak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Jawa Barat.

Saat rekan-rekan perjuangannya terpilih dan dilantik menjadi anggota DPR-RI pada 1999, Andre justru sedang mempersiapkan diri berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi program doktoral. Pada April 2000, Andre menuju Jerman untuk melanjutkan studi S3 nya di Universitaet Giessen, sebuah Kota kecil tujuh puluh kilometer sebelah utara Frankfurt, di bawah bimbingan Profesor Reymund Seidelmann.

Pada pertengahan Mei 2003 Andre menyelesaikan disertasinya tentang ASEM (Asia-Europe Meeting), yang dua bulan kemudian diuji oleh para professor dari Universitas Giessen. Andre kemudian dinyatakan Lulus dengan predikat Magna cum Laude atau Sangat Memuaskan, sebuah predikat kelulusan pada Universitas Jerman yang mendekati kesempurnaan hasil (Summa cum Laude).

Sukses meraih gelar doktor dalam bidang ilmu Politik, dia kembali ke Indonesia pada bulan Juli 2003, kurang dari setahun menjelang Pemilu 2004.

Tidak menyia-nyiakan kualitas keilmuannya, dia kembali ke almamater yang telah membesarkannya, menjadi dosen.

Andre juga kembali ke kandang Banteng, rumah partai PDI Perjuangan di Jawa Barat. Andre kembali dipercaya sebagai ketua Balitbang DPD PDI Perjuangan Jabar.

Saat itu Andre disodorkan formulir Calon Anggota Legislatif untuk ikut bertarung pada Pemilu 2004 mewakili Daerah Pemilihan Bogor.

“Tidak langsung terpilih, namun melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu, kemudian lolos ke Senayan mewakili rakyat Jawa Barat,” ucapnya.

Sebagai anggota DPR-RI, awalnya selama setahun dia ditugaskan oleh fraksi nya di Komisi III dan kemudian pindah ke Komisi I DPR-RI.

Sejak 2010 hingga 2019, dia dipercaya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjabat Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Pertahanan Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan.

  • Perjuangan untuk NTT


Menjadi anggota DPR RI, secara normatif, seorang anggota DPR menjalankan peran representasi yang sejalan dengan politik partai yang diwakili untuk menjalan fungsi: Legislasi (menyusun UU bersama pemerintah), membuat APBN (bersama pemerintah dan mengawasi proses pemerintahan.

Pada aspek fungsi ini Andre menjadi anggota DPR RI yang mewakili Daerah Pemilihan NTT-1 (Flores - Lembata - Alor).

Menjadi anggota DPR RI mewakili NTT, intimya adalah memperjuangkan agar daerah-daerah ini memperoleh porsi anggaran dari pemerintah pusat yang maksimal untuk pembangunan SDM (pendidikan, pelatihan kerja), pembangunan infrastruktur terutama infra struktur kebutuhan dasar seperti air minum, irigasi, listrik dan jalan raya.

Disamping aspek pokok pembangunan tersebut, untuk wilayah Flores, Lembata dan Alor, Andre melihat potensi alam dan budaya yang khas untuk pengembangan wilayah ini menjadi sebuah destinasi wisata yang terintegrasi.

Apalagi saat ini pemerintah pusat sedang gencar membangun Labuan Bajo yang berlokasi di Manggarai Barat sebagai destinasi wisata super premium.

Labuan Bajo ke depan akan menjadi pintu masuk untuk Flores - Lembata dan Alor, karena seluruh wilayah ini mempunyai spot-spot destinasi yang luar biasa indah dan unik seperti Waerebo (Manggarai), Riung dan Kampung Bena ( Ngada), Danau Kelimutu (Ende), Teluk Maumere (Sikka), Samana Santa (Flores Timur), Pemburuan Ikan Paus trasisional (Lembata) Kawasan Teluk Mutiara (Alor).

“Konsep destinasi terpadu Floratama (Flores - Lembata - Alor dan Bima) didukung oleh manusia-manusianya yang ramah terhadap wisatawan menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai destinasi yang melengkapi keunikan dan keindahan Labuan Bajo yang menjadi "surga" bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara,” kata Andre.(Malau)



Nama Andreas Hugo Pareira
Tempat dan Tanggal Lahir Flores, NTT, 31 Mei 1964
Pendidikan S3 di Universitaet Giessen
Pekerjaan DPR RI, fraksi PDI Perjuangan
   


Sumber :


1. Tribunnews.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved