TRIBUNNEWSWIKI.COM - “Saya melihat dalam 3 hingga 4 terakhir, perkembangan budidaya jahe merah di sini cukup menjanjikan. Apalagi, kami mengerjakan semuanya dengan metode berbeda, metode yang lebih benar ketimbang sebelumnya. Saya cukup yakin ini akan berhasil,” ujar Puji Arifin, dari seberang sambungan telefon, saat dihubungi Tribunnewswiki.com, Sabtu (27/2/2021).
Arif, demikian ia akrab disapa, adalah warga Desa Tlogo Mayong, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Pria berusia 37 tahun tersebut bekerja secara serabutan, apapun ia kerjakan. Mulai dari beternak lembu, hingga membantu istrinya berdagang buah di pasar.
Namun, ada satu tugas penting yang mesti ia kerjakan dan dipastikan agar berjalan sebagaimana mestinya.
Yakni, menggarap lahan kurang lebih 4500 m2 milik orang tuanya untuk dimanfaatkan sebagai area budidaya jahe merah.
Sejatinya, ia tak berniat memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman dengan nama latin zingiber officinale varietas tersebut.
Awalnya, ia lebih memilih untuk menanam pohon cengkeh atau durian, yang dianggap lebih menjanjikan dari sisi ekonomi.
Namun, keinginannya tersebut harus ia kesampingkan mengingat pertimbangan keberadaan lahan.
Sebab, lahan yang diwariskan dari kakek neneknya itu berada di bawah titik jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
“Lahan kami bisa dibilang terdampak SUTET. Hal ini terjadi sudah bertahun-tahun lamanya,” tutur Arif.
Arif berkisah PT Perusahaan Listrik Nasional (PLN) Persero pun melakukan sejumlah penertiban terutama terhadap lahan yang menjadi titik jaringan SUTET.
Ada beberapa aturan pemanfaatan lahan yang bertujuan agar tidak mempengaruhi keberadaan sarana menara SUTET.
Tak pelak, hal tersebut berdampak pada masyarakat pemilik lahan yang berniat melakukan budi daya tanaman tertentu.
Padahal, lahan di kawasan tersebut cukup menjanjikan, lantaran memiliki karakteristik tanah gembur, cukup produktif untuk media penanaman sejumlah varietas.
“Kami tidak bisa menanam pohon dengan ukuran besar. Semua ditebang. Hal tersebut memang menyulitkan kami. Namun, mau tak mau kami sebagai rakyat harus mengikuti aturan,” ujarnya.
Bertahun-tahun terdampak, membuat Arif dan keluarganya berpikir keras untuk tetap memanfaatkan sumber daya yang ada supaya tetap menghasilkan secara ekonomi.
Arif berkisah, almarhum ayahnya pernah mencoba untuk menanam tanaman palawija seperti singkong dan ubi.
Hanya saja, hasilnya kurang maksimal.
Beruntung, hal tersebut menjadi perhatian PLN Distribusi Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Dengan semangat untuk memberdayakan masyarakat, PLN menghadirkan program corporate social responbility (CRS) terhadap masyarakat setempat yang terdampak keberadaan menara SUTET, termasuk Arief.