Hari Ini dalam Sejarah: Presiden Roosevelt Perintahkan Jenderal MacArthur Pergi dari Filipina

Pada hari ketika Pearl Harbour dibom, Jepang menghancurkan hampir separuh jumlah pesawat AS yang bermarkas di Filipina.


zoom-inlihat foto
roosevelt-arthur.jpg
Kolase Wikimedia Commons
Presiden AS Franklin D. Roosevelt (kiri) dan Jenderla Douglas MacArthur

Pada hari ketika Pearl Harbour dibom, Jepang menghancurkan hampir separuh jumlah pesawat AS yang bermarkas di Filipina.




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden AS Franklin D. Roosevelt pada 22 Februari 1942, tepat 79 tahun silam, memerintahkan Jenderal Douglas MacArthur pergi dari Filipina.

Douglas MacArthur diperintahkan meninggalkan Filipina karena pertahanan AS di kepulauan itu sudah tumbang dan akan segera jatuh ke tangan Jepang.

Pada hari ketika Pearl Harbour dibom, Jepang menghancurkan hampir separuh dari pesawat AS yang bermarkas di Filipina.

Sebelumnya, Douglas MacArthur menolak meninggalkan Filipina dan berencana bertempur dengan tentaranya hingga mati bila perlu.[1]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Kebakaran di Tengah Konser Rock di Rhode Island Tewaskan 100 orang


Pasifik menjadi medan perang setelah Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl Harbour pada 7 Desember 1941.

Sementara itu, pada Juli 1941 Douglas MacArthur telah ditunjuk sebagai komandan Angkatan Darat AS untuk wilayah Timur Jauh, termasuk semua pasukan Amerika dan Filipina di Filipina.

Pada Maret 1942 Jepang mulai menguatkan dominasinya di sekitar Filipina.[2]

Selama kampanye Jepang di Pasifik, MacArthur bersama keluarganya berada di Corregidor, Filipina, dan mengurus sekitar 90.000 pasukan AS dan Filipina.

Karena benteng kuat di sekitarnya jatuh ke tangan Jepang, Presiden Roosevelt khawatir bahwa Corregidor juga akan jatuh.

Roosevelt juga mengkhawatirkan MacArthur karena dia bisa tertangkap Jepang atau bahkan dibunuh.

Mac Arthur menolak saran Roosevelt untuk meninggalkan Corregidor, dia mengatakan ingin menjalani nasib yang sama dengan pasukannya.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 19 Februari: Pesawat Iberia Airlines Flight 610 Jatuh, Tewaskan 148 Orang

Kepala Staf Angkatan Darat AS, George C. Marshall, juga mendesak dia untuk segera meninggalkan benteng itu.

MacArthur menolak, tetapi dia akhirnya bersedia meninggalkan tempat itu setelah diperintahkan langsung oleh Roosevelt pada 22 Februari 1942.

Dia, keluarganya, dan pemimpin militer tingkat tinggi lainnya meninggalkan Corregidor dengan perahu.

Mereka harus melakukan perjalanan yang berbahaya karena harus menghadapi badai dan menghindari tentara Jepang dan ranjau.

Setelah itu, mereka pergi ke pantai Australia Utara dengan pesawat B-17 dan kemudian menggunakan kereta untuk sampai ke Melbourne.

Douglas MacArthur dan Kaisar Jepang Hirohito pada 27 September 1945
Douglas MacArthur dan Kaisar Jepang Hirohito pada 27 September 1945 (Wikimedia Commons/Lt. Gaetano Faillace)

MacArthur frustrasi karena tahu pasukannya di Filipina kekurangan logistik dan tidak dapat bertahan dari serbuan Jepang untuk waktu yang lama.

Dia berjanji kepada anak buahnya bahwa dia akan kembali Filipina dan melanjutkan pertempuran.

Janji ini diucapkan di depan media, dan dia mengatakan, "I shall return."[3]

  • Merencanakan Pendaratan


Mac Arthur kemudian ditugaskan memimpin pasukan sekutu di Pasifik Barat Daya dan mempertahankan Australia.

Dia sedih ketika mendengar Jepang telah menguasai Bataan dan Corregidor, dan menawan puluhan ribu pasukan Amerika dan Filipina.

Kepala Staf Gabungan AS tidak menyusun rencana untuk membebaskan pasukan AS karena mereka mefokuskan pada target lain.

Setelah menang dalam Pertempuran Midway, Laksamana Nimitz berencana langsung menyerbu ke Jepang.

MacArthur memiliki rencana. Dia sedang menyiapkan serangan ke Filipina, tetapi butuh lebih banyak dukungan.

Dia membutuhkan Nimitz untuk mengerahkan pasukannya ke Filipina. Rencana ini didukung oleh Kepala Gabungan.

Dengan melibatkan pasukan Nimitz, dia merancang rencana pendaratan di Filipina dan membebaskan pasukannya yang ditawan Jepang.[4]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 18 Februari: Elm Farm Ollie Jadi Sapi Pertama yang Terbang dengan Pesawat

  • Memenuhi janji


MacArthur akhirnya kembali ke Filipina pada 20 Oktober 1944. Dia dan pasukannya mendarat di Pulau Leyte.

Pada hari itu dia membuat siaran radio dan mengatakan, "Rakyat Filipina, saya telah kembali!"

Pasukannya menyerbu Pulau Luzon pada Januari 1945. Sebulan kemudian, pasukan Jepang di Bataan disingkirkan, dan Corregidor dikuasai kembali.

Ibu Kota Manila jatuh pada Maret, dan pada Juni dia mengumumkan bahwa operasi penyerbuan di Luzon akan berakhir.

Douglas MacArthur mendarat di Filipina dan memenuhi janjinya
Douglas MacArthur mendarat di Filipina dan memenuhi janjinya (Wikimedia Commons/U.S. Army Signal Corps)

Hanya ada sepertiga jumlah anak buahnya, yang dulu ditinggalkan, yang masih bertahan dan melihat MacArthur kembali.

"Saya sedikit telat," kata dia kepada mereka, "tetapi kami akhirnya datang."[5]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 17 Februari: Perang China-Vietnam Dimulai, Dipicu Serbuan Vietnam ke Kamboja

(Tribunnewswiki/Tyo)



Peristiwa Presiden Roosevelt perintahkan MacArthur pergi dari Filipina
Tanggal 22 Februrai 1942
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved