Sindrom Mielodisplasia

Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional


zoom-inlihat foto
sindrom-mielodisplasia-terjadi-saat-produksi-sel-darah-terganggu.jpg
halodoc
Sindrom Mielodisplasia terjadi saat produksi sel darah terganggu dan tidak terkendali, hal ini menyebabkan sel darah pengidap praleukimia belum matang dan cacat

Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional.

Praleukimia terjadi saat sumsum tulang mengalami gangguan.

Baca: Sindrom Metabolik

  • Penyebab


Sindrom Mielodisplasia terjadi saat produksi sel darah terganggu dan tidak terkendali, hal ini menyebabkan sel darah pengidap praleukimia belum matang dan cacat.

Bukannya terbentuk dengan normal, saat masuk ke dalam aliran darah sel akan mati dalam sumsum tulang.

Lama-lama, jumlah sel yang belum matang dan cacat mulai meningkat lebih banyak daripada sel darah yang sehat.

Hal ini dapat menyebabkan masalah, seperti anemia, infeksi, dan perdarahan berlebih.

Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional
Sindrom Mielodisplasia atau praleukimia adalah kelainan yang disebabkan oleh sel darah yang terbentuk tidak sempurna alias disfungsional (Tribunjualbeli.com)

Dokter menggolongkan Sindrom Mielodisplasia menjadi dua kategori berdasarkan penyebabnya, yaitu:

Sindrom Mielodisplasia tanpa penyebab yang diketahui. Disebut de novo myelodysplastic syndromes, karena dokter tidak mengetahui penyebabnya. De novo myelodysplastic syndromes, biasanya lebih mudah diatasi dibandingkan dengan sindrom Mielodisplasia dengan penyebab yang diketahui.

Sindrom Mielodisplasia disebabkan oleh zat kimia dan radiasi. Sindrom Mielodisplasia yang terjadi sebagai respons terhadap perawatan kanker, seperti kemoterapi dan radiasi atau paparan zat kimia disebut sindrom Mielodisplasia sekunder. Sindrom Mielodisplasia sering kali lebih sulit ditangani.

Baca: Sindrom Klinefelter

  • Gejala


Pada tahap awal, sindrom Mielodisplasia jarang menunjukkan tanda atau gejala.

Ketika gejala muncul, biasanya dapat berupa:

  • Pucat karena anemia;
  • Infeksi yang sering terjadi akibat jumlah sel darah putih matang yang rendah;
  • Mudah memar atau berdarah karena rendahnya jumlah trombosit;
  • Kelelahan;
  • Sesak napas; dan
  • Bintik merah di bawah kulit akibat perdarahan.

  • Pengobatan


Pengobatan terhadap sindrom Mielodisplasia difokuskan untuk menghambat perkembangan kondisi ini, mengurangi gejalanya, serta mencegah perdarahan dan infeksi.

Dokter akan melakukan beberapa bentuk pengobatan yang meliputi:

Obat-obatan. Bertujuan untuk menghancurkan sel-sel darah yang tidak berkembang dengan menghentikan pertumbuhannya. Obat-obatan dapat berbentuk tablet atau injeksi.

Contoh obat yang digunakan untuk menghambat perkembangan sindrom

  • Mielodisplasia adalah lenalidomide, azacitidine, ataupun decitabine.
    Injeksi faktor pertumbuhan sel darah. Untuk meningkatkan sel darah merah sehat dan mempertahankan nilai Hb normal dapat digunakan erythropoietin (EPO), seperti epoetin alfa. Untuk meningkatkan sel darah putih, pemberian G-CSF, misalnya filgrastim, hanya diberikan pada kasus tertentu. Sedangkan pemberian faktor pertumbuhan terhadap trombosit, seperti eltrombopag malah dapat meningkatkan jumlah sel darah yang tidak matang, sehingga tidak digunakan pada kasus sindrom Mielodisplasia.
  • Transfusi darah. Transfusi sel darah merah merupakan terapi pendukung yang digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah dan mempertahankan nilai Hb normal. Sedangkan transfusi trombosit, hanya dilakukan untuk menghentikan perdarahan bila terjadi perdarahan.
  • Terapi pengikat besi. Terapi ini dilakukan karena terlalu sering melakukan tranfusi bisa menyebabkan kadar zat besi dalam tubuh terlalu tinggi.
  • Antibiotik. Untuk mengatasi infeksi jika jumlah sel darah putih rendah.
  • Kemoterapi kombinasi. Kemoterapi kombinasi dilakukan bila terdapat peningkatan jumlah sel muda yang tidak matang atau sindrom Mielodisplasia yang berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah).
  • Transplantasi sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang disarankan kepada pengidap yang berusia 55 tahun ke bawah dan memiliki sindrom Mielodisplasia yang tidak terkontrol. Perlu diingat, sindrom Mielodisplasia banyak dialami oleh pengidap berusia 60 tahun ke atas, sehingga transplantasi sumsum tulang jarang dilakukan pada penyakit sindrom Mielodisplasia.

Komplikasi dari sindrom mielodisplasia, meliputi:

  • Anemia;
  • Perdarahan sulit berhenti akibat rendahnya trombosit (trombositopenia);
  • Sering mengalami infeksi akibat rendahnya sel darah putih matang; dan
  • Berkembang menjadi leukemia akut (kanker darah).

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Informasi
Penyakit Sindrom Mielodisplasia
Faktor Risiko Usia lanjut
Perawatan dengan kemoterapi atau radiasi
Paparan terhadap zat kimia


Sumber :


1. www.halodoc.com


Penulis: Putradi Pamungkas






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved