Korea Utara Retas Pfizer, Berupaya Curi Data Vaksin dan Perawatan Covid-19, Padahal Klaim Nol Kasus

Para ahli kesehatan mengatakan Korut melakukan hal itu bukan karena ingin mengembangkan vaksin, melainkan untuk menjual data


zoom-inlihat foto
markas-pfizer.jpg
JEENAH MOON / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Seorang pria bermasker berjalan melewati markas perusahaan vaksin, Pfizer Inc., di New York, Amerika Serikat, Juli 2020). Korea Utara disebut meretas situs untuk mencuri data soal vaksin dan perawatan Covid-19, meski negara ini mengklaim nol kasus Covid-19.


Sumber tersebut mengatakan eksekusi publik bukanlah metode langka bagi pemerintah Korea Utara untuk menakut-nakuti warga agar patuh.

Baca: Kejadian Langka, Pejabat Korea Utara Sudah Miliki Twitter, Diduga Jadi Kendaraan Propaganda Terbaru

Kendati demikian, kasus Covid-19 ini istimewa.

Pasalnya, sebelumnya pemerintah tak pernah menembak langsung orang yang mendekati perbatasan.

"Bahkan selama Arduous March di tahun 1990-an, ketika pembelotan massal berlanjut, pemerintah tidak mengancam Penduduk di daerah perbatasan seperti ini," katanya, mengacu pada bencana kelaparan tahun 1994-1998 yang menewaskan jutaan orang Korea Utara.

Tembak Mati Pria yang Menyelundupkan Diri

ILUSTRASI - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ketika bertepuk tangan saat memberikan pidato dalam parade militer merayakan 75 tahun Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, 10 Oktober 2020.
ILUSTRASI - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ketika bertepuk tangan saat memberikan pidato dalam parade militer merayakan 75 tahun Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, 10 Oktober 2020. (AFP/KCNA VIA KNS/STR)

Baca: 10 Bulan Tak Muncul, Istri Kim Jong-un Dikhawatirkan Hilang, Sakit, atau Sudah Dieksekusi?

Pemerintah Korea Utara baru saja mengeksekusi warga yang ketahuan barang.

Pria itu ditembak karena disebut telah menyelundupkan diri bersama rekan bisnisnya asal China.

Pemerintah langsung menginstruksikan eksekusi publik.

Hal itu sekaligus sebagai upaya untuk menakut-nakuti warga lain agar patuh pada kebijakan karantina darurat di Korea Utara.

Korea Utara, yang berbagi perbatasan sejauh 880 mil dengan China, mengklaim bebas Covid-19.

Akan tetapi, negara totaliter itu telah menerapkan sejumlah pembatasan dan penguncian yang cukup ketat.

Bahkan mereka resmi melarang perjalanan antarprovinsi.

Pemerintah Semakin Waspada

Ilustrasi Pemerintah Korea Utara semakin waspada
Ilustrasi Pemerintah Korea Utara semakin waspada (ABC News)

Baca: Korea Utara: Badai Debu dari China Bisa Tularkan Covid-19

Penyelundup itu telah melewati penutupan perbatasan antara kedua negara.

Kejadian ini membuat mereka jauh lebih waspada.

Akibatnya, aturan yang lebih ketat diberlakukan.

"Sejak akhir November, Komite Sentral [Partai Pekerja Korea] telah meningkatkan tindakan karantina darurat yang ada menjadi tindakan karantina darurat 'tingkat ultra-tinggi'," seorang penduduk provinsi Pyongan Utara, di perbatasan dengan China di barat laut negara itu, mengatakan kepada RFA's Korean Service.

Baca: Kim Jong Un Berikan Pidato Emosional dalam Parade Militer, Masyarakat Korea Utara Menangis

"Eksekusi publik terjadi karena korban didakwa melanggar karantina tepat sebelum tindakan darurat ultra-tinggi berlaku sekitar 20 November."

"Seorang pria berusia 50-an yang mencoba yang menyelundupkan mitra bisnis China ditembak sebagai contoh pada 28 November," tambah sumber itu.

Sumber tersebut mengatakan mereka tidak menghadiri eksekusi publik tetapi mendiskusikannya dengan seorang saksi, yang mengatakan penembakan itu dipindahkan dari daerah asal korban, dekat perbatasan, untuk menjaga agar berita tidak merembes ke China.

(TribunnewsWiki.com/Nur)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved