Dia lalu mengambil kuliah jurusan fisika di Universitas Standford untuk mengejar gelar Ph.D.
Namun dua hari setelah masuk kelas, dia enggan melanjutkan studi.
Ia malah memilih menekuni bisnis terknologi dan internet hingga sekarang.
Korban perundungan
Bak kebanyakan kisah superhero, Musk juga menjadi korban perundungan sebelum mendapat "kekuatan super".
Selama mengenyam pendidikan di Afrika Selatan, Musk bukanlah murid yang populer.
Dia cenderung dikenal sebagai pribadi yang introvert dan pendiam.
"Mereka (pelaku perundungan) memaksa sahabat saya untuk membujuk saya keluar dari persembunyian, sehingga mereka bisa memukuli saya. Dan itu menyakitkan," kata Musk, dikutip dari Investopedia.
Jenius dan hobi baca buku
Kejeniusan Musk sudah terbaca oleh Ibunya sejak usia tiga tahun.
Saat itu, Maye tahu anak tertuanya sangat cerdas tapi belum tahu apakah dia bakal membuat sesuatu yang cemerlang atau hanya akan dipendam.
"Karena banyak orang jenius di luar sana yang memendam kemampuannya dan tidak mengaplikasikannya," kata Maye, dikutip dari People.
Saking cerdasnya, Musk membuat software berupa game komputer sendiri di usia 12 tahun. Game bertema luar angkasa tersebut diberi judul "Blastar".
Dengan bantuan sang Ibu, game itu dijual ke sebuah majalah dan laku seharga 500 dolar AS saat itu. Keakraban Musk dengan teknologi dimulai ketika usianya 10 tahun, saat dia mendapat komputer pertamanya.
Maye berkisah bahwa Musk menguasai semua shortcut komputer saat itu. Selain hobi mengotak-atik komputer, Musk juga menghabiskan waktu kecilnya untuk membaca banyak buku dan komik, terutama komik bertema antariksa. Buku favoritnya adalah genre filosofi, fiksi ilmiah, dan novel fantasi.
Mendirikan Zip2 dan PayPal
Tahun 1995, Musk dan adiknya, Kimbal mendirikan sebuah startup bernama Zip2. Startup ini menyediakan software untuk perusahaan konten online.
Beberapa tahun kemudian, Zip2 mendapat investor dari beberapa perusahaan media besar seperti The New York Times, Hearst Corporation, dan Knight Rider. Tahun 1999, Zip2 diakuisisi AltaVista yang saat itu sudah diakuisisi oleh Compaq.
Nilai akuisisi tersebut mencapai 300 juta dollar AS dan menjadikan kakak-beradik Musk sebagai jutawan muda kala itu. Setahun sebelum Zip2 diakuisisi, Musk dan kawan-kawannya mendirikan startup lain yang diberi nama X.com.
Berbeda dengan Zip2, X.com menyediakan layanan keuangan online.Tahun 1999, X.com diakuisisi oleh Confinity, perusahaan yang menyediakan sistem transfer uang antar-perangkat mobile yang saat itu sedang naik daun, yakni Palm Pilot.