Terkait milik siapa database yang bocor dan dimasukkan ke dalam COMB ini masih belum diketahui.
Dari sampel yang dilihat CyberNews, mengindikasikan bahwa akun dan password e-mail itu berasal dari domain di seluruh dunia.
Untuk diketahui, jumlah data yang terekspos lebih sedikit pada kebocoran data COMB 2017 lalu jika dibandingkan dengan kebocoran tahun 2020 ini, yang mencapai 1,4 miliar kredensial akun.
Ketika COMB 2017 terekspos, firma keamanan siber 4iQ menguji sebagian kecil kata sandi untuk verifikasi, ternyata sebagian besar kata sandi yang diuji berfungsi.
Baik kebocoran COMB pada tahun 2017 dan 2020, keduanya disusun menurut urutan abjad yang terstruktur, dan berisi skrip yang sama untuk query e-mail dan sandi.
Baca: Saran Ahli Teknologi: Ini Cara Supaya Privasi WhatsApp, Telegram dan Signal Aman dari Peretas
Baca: Hacker Sebut Bisa Jual Data Pasien Tes Covid-19, Achmad Yurianto: Kita Serahkan ke Pihak Berwajib
Menurut Cyber News, Minggu (7/2/2021), kebocoran data seperti COMB ini bisa menimbulkan beberapa ancaman bagi pengguna yang menjadi korban.
Sebagai contoh korban menjadi target phising dan e-mail spam.
Oleh sebab itu pengguna disarankan untuk menggunakan kata sandi unik di setiap akun.
Kemudian pengguna juga disarankan untuk menambahkan otentikasi multifaktor.
Contohnya seperti Google Authenticator pada akun mereka.
Dengan begitu, meskipun penjahat siber memiliki kredensial akun, mereka tidak akan bisa masuk ke akun tersebut.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka, Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 3 Miliar E-mail dan Pasword Bocor di Internet, Cek Apakah Anda Terdampak