“Invasi Gedung Capitol AS ini pertama kalinya terjadi sejak bangunan itu dibanjiri serangan Inggris selama Perang 1812,” menurut Samuel Holliday, direktur beasiswa dan operasi dari US Capitol Historical Society.
Perwakilan Tinggi Uni Eropa Josep Borrell menggambarkannya sebagai "serangan yang tak pernah terlihat sebelumnya terhadap demokrasi AS, institusi dan supremasi hukumnya," dan menambahkan: "Ini bukan Amerika."
Banyak dari mereka, termasuk diplomat dan pemimpin top di Islandia, Prancis, Austria, Kolombia, dan Skotlandia, menyatakan ketidakpercayaan dan berusaha mengingatkan AS akan perannya sebagai model demokrasi di dunia.
Baca: Donald Trump Telepon Sekretaris Negara Bagian Georgia, Minta 11 Ribu Suara Tambahan
Baca: Daftar 32 Kata dan Frasa yang Paling Sering Dipakai Presiden AS Donald Trump dalam 5 Tahun Terakhir
"Amerika Serikat mewakili demokrasi di seluruh dunia," tulis Perdana Menteri Inggris Boris Johnson di Twitter.
"Kongres AS adalah kuil demokrasi. Menyaksikan adegan malam ini di #WashingtonDC sungguh mengejutkan," kata Presiden Dewan Eropa Charles Michel.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mendesak warga AS untuk menghormati hasil pemilihan November.
Seruan yang digaungkan oleh Presiden Parlemen Eropa David Sassoli, yang menambahkan, "Kami yakin AS akan memastikan bahwa aturan demokrasi dilindungi."
Beberapa pemerintah asing, termasuk Turki, juga memperingatkan warganya untuk mewaspadai potensi kekerasan lebih lanjut.
"Kami percaya bahwa AS akan mengatasi krisis politik domestik ini dengan matang. Kami merekomendasikan agar warga kami di AS menjauh dari tempat keramaian dan tempat pertunjukan diadakan," kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.
(TribunnewsWiki.com/Restu, Kompas.com/Bernadette Aderi Puspaningrum)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Para Pemimpin Dunia Mengutuk Demo di Gedung Capitol AS"