TRIBUNNEWSWIKI.COM - Di tengah pandemi Covid-19, munculnya isu pengesahan Omnibus Law mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan.
Undang-undang yang diusungkan oleh DPR RI tersebut dinilai cukup meresahkan.
Pasalnya, banyak pasal yang disebut-sebut merugikan para buruh dan lebih menguntungkan para pengusaha.
Pergerakan menolak disahkannya Omnibus Law tersebut akhirnya dilakukan oleh berbagai kalangan di beberapa daerah di Indonesia.
Namun yang cukup aktif menyuarakan penolakan adalah kelompok mahasiswa yang akhirnya turun ke jalan.
Pertengahan tahun 2020, tagar #GejayanMemanggilaLagi menjadi trending.
Tagar tersebut dibuat untuk memanggil semua kalangan yang tak setuju dengan Omnibus Law untuk penyuarakan penolakan.
Dari situ, ribuan mahasiswa pun turun ke jalan mendemo pemerintah membatalkan Omnibus Law yang kini telah disahkan dan diberi nama UU Cipta Kerja.
Baca: Kaleidoskop 2020: Panasnya Demo Besar-besaran Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja oleh Masyarakat
Baca: Kaleidoskop 2020: Pandemi Covid-19, Orang Pertama Terinfeksi Virus Corona hingga Penemuan Vaksin
Tak hanya di Gejayan, pergerakan demo menolak UU Cipta Kerja kemudian dilakukan di daerah lain.
Berbagai aksi dan cara pun dilakukan oleh masyarakat agar aspirasi mereka didengar oleh pemangku kekuasaan.
Bahkan beberapa aksi yang mereka lakukan pun cukup unik, hingga akhirnya menjadi viral di media sosial.
Berikut hal unik yang menjadi viral dalam demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Mahasiswi Joget Tiktok Tolak Omnibus Law
Aksi tolak UU Cipta Kerja di Makassar pada Kamis (8/10/2020) diwarnai berbagai cara teatrikal.
Diketahui, aksi unjuk rasa tersebut dilakukan di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar.
Tak hanya mengangkat tulisan penolakan dan berorasi, segerombolan mahasiswi beralmamater oranye terlihat bergoyang tiktok di tengah demo.
Lima mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) ikut berdemo tolak UU Cipta Kerja dengan cara bergoyang Tiktok.
Aksi kelima mahasiswi tersebut pun viral di media sosial, karena cara demo yang tak biasa.
Dilansir dari Tribun Timur, unjuk rasa dengan cara menari tersebut merupakan bentuk teatrikal mahasiswi seni tari UNM.
Mereka adalah mahasiswi program studi Seni Tari FSD UNM.
Afirsta Sri Wulan Suci sebagai salah satu dari lima mahasiswi itu, ikut turun ke jalan karena ingin ikut memperjuangkan nasib kaum buruh.
Selama ini Wulan yang beraktivitas dalam kegiatan-kegiatan seni tari, merasa terpanggil untuk menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Wulan mengungkapkan, video tiktok itu dibuat sebagai bentuk mengekspresikan kekecewaannya kepada para wakil rakyat.
Video tiktok itu dibuat spontan karena mereka kecewa gagal menemui anggota DPRD Sulsel untuk menyampaikan aspirasi.
Baca: Viral 5 Mahasiswi UNM Buat Video Tiktok saat Demo Tolak Omnibus Law, Spontan Menari Sindir DPR
Baca: Copet Nyamar Jadi Mahasiswa saat Demo Tolak Omnibus Law, Ngaku Dapat Almamater
Outfit Jutaan Anak Sultan saat Demo Omnibus Law Jadi Sorotan
Seorang mahasiswa yang ikut demo tolak Omnibus Law mendadak menjadi sorotan warganet.
Pemuda yang memakai helm fullface dengan jaket berwarna biru tua viral di media sosial.
Pasalnya, helm mahasiswa yang ikut berdemo tersebut disebut-sebut berharga jutaan.
Banyak warganet yang kemudian mengomentari pemuda tersebut dengan sebutan anak sultan.
Outfit 'Anak Sultan' tersebut kemudian ramai diperbincangkan di Twitter dan menjadi trending topic.
Cuitan harga helm jutaan yang dipakai oleh pendemo 'Anak Sultan' itu diunggah oleh akun twitter bernama @PenjahatGunung.
Akun tersebut mengunggah foto pemuda tersebut sedang berdemo di tengah kepulan asap diduga gas air mata.
Terlihat dalam foto yang beredar, pemuda itu mencoba menangkis dan melempar kembali gas air mata.
Hal yang disorot adalah outfit pemuda tersebut yang disebut-disebut berharga mahal.
Akun tersebut pun menampilkan rincian barang-barang yang dipakai pendemo, lengkap dengan harga yang dijual di toko online.
Pertama, helm full face pabrikan Arai yang dikenakan berharga Rp9,4 juta
Selanjutnya, yang disorot adalah perangkat komunikasi bluetooth yang terpasang di helm, seharga Rp3,9 juta.
Terakhir adalah sarung tangan seharga Rp650 ribu.
Cuitan itu pun langsung ramai. Hingga pukul 07.00 WIB, Minggu (11/10/2020), postingan ini telah diretweet 18,5 ribu kali dan 85 ribu kali disukai.
“Anak sultan ikutan demo pake helm 9 jutaan,” tulis akun @PenjahatGunung.
Video Tiktok Wanita Mengaku Simpanan DPR Tolak Omnibus Law
Viral video beberapa wanita pengguna Tiktok mengaku menjadi simpanan DPR ikut angkat bicara terkait UU Cipta Kerja yang disahkan pada Senin (5/10/2020) lalu.
Sejumlah wanita tersebut mengaku akan mengumbar hubungan mereka dengan anggota DPR RI.
Dalam video Tiktok yang viral tersebut, terdapat narasi yang mengatakan ketidaksetujuan terhadap Omnibus Law.
Wanita-wanita itu pun tak segan menuliskan ancaman yang ditujukan kepada anggota DPR RI.
Salah satu wanita yang mengunggah video di Tiktok, memperlihatkan dirinya berfoto dengan seorang pria yang diduga sebagai anggota DPR RI.
Foto tersebut pun diunggah disertai narasi agar para pejabat mau merevisi UU Cipta Kerja.
"Tolak Omnibus Law apa mau saya kasih tau istri andaaaa," tulis salah satu akun Tiktok.
Baca: Viral Satpam Kampus Dipukul Polisi saat Demo Tolak Omnibus Law, Unisba Layangkan Surat Aduan
Baca: Viral Anak Sultan Ikut Demo Tolak Omnibus Law, Helm Belasan Juta Jadi Sorotan Warganet
Video para wanita yang diduga simpanan pejabat tersebut pun viral di media sosial.
Banyak dari warganet yang mendukung wanita-wanita tersebut untuk mendesak anggota DPR agar mau mendengarkan rakyat.
Orasi DPRD Bulukumba di Hadapan Massa Pendemo
Ketua DPRD Bulukumba, H Rijal, mengatakan ketidaksetujuannya terhadap UU Cipta Kerja dihadapan pendemo pada Kamis (8/10/2020).
Video orasinya pun viral di media sosial.
Dalam potongan video yang tersebar, H Rijal meminta massa pendemo untuk tenang dan mendukungnya.
Ia mengatakan jika dirinya pun menolak dan tak setuju dengan disahkannya UU Cipta Kerja yang dinilai kontroversional.
Dihadapan ratusan pendemo, Ketua DPRD Bulukumba dengan tegas akan menyampaikan penolakannya kepada pemerintah pusat.
“Delapan Fraksi di DPRD Bulukumba menolak Undang-Undang Omnibus Low Cipta Kerja. Tidak ada penyampaian secara resmi dari pusat terkait pengesahan Undang undang ini. Dalam waktu dekat akan kami sampaikan ke DPR RI,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah pusat yang mengesahkan UU Cipta Kerja yang dirasa tertutup.
Pasalnya menurut dirinya, pengesahan tersebut sengaja dilakukan saat malam hari, dimana semuanya tertidur.
"Undang-undang Omnibus Law ini ditetapkan saat malam hari. Dan kita sama-sama tertidur lelap. Sehingga kami ditingkat kabupaten tidak mengetahui dan tidak ada informasi dari tingkat pusat bahwa ini yang terjadi," katanya.
H Rijal pun kemudian mengaku akan mendukung rakyat dan menyampaikan aspirasinya ke Jakarta.
Ia pun menyatakan akan menyatukan tekad untuk berjuang bersama-sama.
"Sehingga pada kesempatan siang hari ini, kami menyampaikan kepada seluruh masyarakat Bulukumba, Alisansi, kami secara pribadi menolak UU tersebut," teriaknya.
Hal itu disampaikannya karena dirinya menyadari jika ia terlahir dari rakyat.
(TribunnewsWiki.com/Restu)