Selain itu, masyarakat juga harus disiplin menjalankan protokol kesehatan agar bisa mencegah penularan.
"Masyarakat tidak perlu panik berlebihan terhadap mutasi D614G. Namun, harus tetap waspada penuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19," ujar Bambang, Kamis (3/9/2020), dikutip dari Kompas.com.
Bambang mengatakan mutasi pada Virus Corona tipe SARS-CoV-2 ini tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin yang tengah dilakukan.
Vaksin mungkin harus disesuaikan
Virus corona baru terus bermutasi dan pakar percaya virus penyebab Covid-19 itu menjadi semakin mudah menular, menurut hasil riset terbaru.
Para pakar kesehatan mengakui semua virus bermutasi, tetapi mayoritas mutasinya tidak signifikan.
Dilansir dari The Guardian, David Morens, ahli virus di Institut Nasional Penyakit Menular dan Alergi, mengatakan penelitian itu seharusnya tidak ditafsirkan secara berlebihan.
Namun, dia mengatakan virus corona mungkin merespons intervensi kesehatan masyarakat, misalnya pembatasan sosial.
"Semua hal itu menghalangi transmisi atau penularan, tetapi karena menjadi semakin menular, virus itu secara statistik menjadi lebih baik dalam mengatasi hambatan tersebut," kata dia.
Artinya, virus ini, kata Morens, bisa terus bermutasi bahkan setelah vaksin tersedia.
Oleh karena itu, vaksin mungkin harus diotak-atik atau disesuaikan, seperti vaksin flu yang diubah tiap tahun.
Dugaan adanya mutasi yang membuat virus corona menjadi lebih menular dikaitkan dengan kenaikan kasus Covid-19 di AS.
(Tribunnewswiki/Tyo/Kontan/Titis Nurdiana)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan dengan judul "Eijkman: Virus corona bermutasi sampai 7 kali, efeknya Covid-19 cepat menular"