Hari Ini dalam Sejarah 17 November: Jepang Memindahkan Ibu Kota dari Nara ke Kyoto

Kyoto tetap menjadi Ibu Kota Jepang hingga tahun 1868


zoom-inlihat foto
kuil-kiyomizu-di-kyoto-pada-1908.jpg
Wikimedia Commons
Kuil Kiyomizu di Kyoto tahun 1908

Kyoto tetap menjadi Ibu Kota Jepang hingga tahun 1868




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ibu Kota Jepang resmi pindah dari Nara ke Heiankyo atau Kyoto tanggal 17 November 794.

Perpindahan ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Kammu yang memerintah dari tahun 781 hingga 806.

Kyoto tetap menjadi Ibu Kota Jepang hingga tahun 1868 atau saat ibu kota dipindahkan ke Edo atau Tokyo.

Setelah Ibu Kota Jepang pindah ke Tokyo, Kyoto sering disebut sebagai Saikyo atau “Ibu Kota Barat”.[1]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 16 November: Francisco Pizarro Menangkap Kaisar Inca Atahualpa

Kuil Kiyomizu di Kyoto tahun 1908
Kuil Kiyomizu di Kyoto tahun 1908 (Wikimedia Commons)

  • Sekilas Kaisar Kammu


Kaisar Kammu lahir di Nara tanggal 4 Februari 737 sebagai putra Kaisar Konin (berkuasa 770-781) dan istrinya yang berasal dari Korea

Pada awalnya, dia dihapus dari garis suksesi, tetapi karena didukung klan Fujiwara yang mendominasi pemerintahan dan istana, dia dimasukkan kembali.

Kammu dipilih sebagai calon pengganti ayahnya tahun 773, dan ketika Kaisar Konin turun tahta tahun 781, Kammu diangkat menjadi kaisar.

Era pemerintahan Kammu disebut sebagai Enryuku atau “suksesi panjang”.

Kammu dikenal sebagai kaisar yang memindahkan ibu kota Jepang dari Nara ke Kyoto.

Kaisar ini menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan Tiongkok, khususnya penafsiran Konfusianisme dan Taoisme tentang tanda-tanda.

Namun, Kammu membuat administrasi pemerintahan  menjadi boros atau sangat mahal.

Para abdi negara kemudian dibatasi dan beberapa kementerian ditekan. Kammu juga membentuk sebuah badan penasihat yang disebut kurando-dokoro.

Kaisar Jepang Kammu
Kaisar Jepang Kammu (Wikimedia Commons)

Karena istana kerajaan membengkak, ada “pengurangan anggota dinasti” tahun 805.

Lebih dari 100 pangeran dan putri kerajaan dikurangi statusnya dari keluarga raja menjadi bangsawan dan diberi nama klan, misalnya Minamoto, Taira, dan Ariwara.

Meskipun Kammu waspada pada pengaruh Buddha, dia mengizinkan dukungan negara pada kuil-kuil Buddha.

Kammu juga mengakhiri praktik wajib militer para petani di provinsi karena menganggap mereka tidak efektif.

Ketika tidak sedang berperang, para petani justru digunakan para pemimpin lokal untuk kepentingannya sendiri.

Para tuan tanah besar pun mulai membentuk tentara pribadi beranggotakan para samurai untuk melindungi kepentingan mereka.

Kammu juga berusaha mengurangi korupsi para pejabat di provinsi. Sebuah badan bernama kageyushi dibentuk untuk memastikan catatan keuangan tetap terjaga.

Selain itu, sebuah audit dilakukan ketika ada pemindahan gubernur.

Kaisar Kammu meninggal tanggal 9 April 806 dan digantikan anaknya, Kaisar Heizei.[3]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 16 November: Penulis Rusia Fyodor Dostoevsky Dijatuhi Hukuman Mati

  • Pemindahan Ibu Kota


Selama Periode Nara (710-794), istana Jepang mengalami konflik internal antara para aristokrat yang memperebutkan dukungan dan posisi.

Selain itu, juga ada pengaruh para sekte-sekte Buddha terhadap kebijakan pemerintahan. Kuil-kuil Buddha banyak bertebaran di sekitar Ibu Kota Nara.

Pada tahun 782 juga ada kudeta yang dilakukan keturunan Kaisar Temmu, tetapi gagal. Hal-hal ini memutuskan Kammu untuk memindahkan ibu kotanya ke Nagaokakyo di Sungai Yodo pada 784.

Namun, pembunuhan kepala penasihat Kammu, kematian satu istri dan satu anaknya, beberapa banjir dan epidemi membuat Nagaokakyo dianggap tidak cocok.

Maka, Kammu memutuskan pemindahan ibu kota ke Heiankyo pada tahun 794. Kammu pindah ke Heiankyo menggunakan kereta tanggal 17 November.

Perpindahan ini menandai dimulai periode Heian yang berlangsung hingga abad ke-12.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 14 November: Pesawat Apollo 12 Diluncurkan, Tersambar Petir Dua Kali

Heiankyo berarti “ibu kota kedamaian dan ketenangan” dan kemudian lebih dikenal sebagai Kyoto.

Ibu kota baru ini dibangun menggunakan model Tiongkok.

Para aristokrat memiliki istana bagus dengan kebun dan sebuah taman besar yang dibangun di selatan istana kerajaan.

Tidak ada kuil Buddha yang diizinkan dibangun di bagian utama kota dan tidak ada pendeta yang diizinkan pindah dari Nara, meskipun Kammu mengizinkan pembangunan dua kuil di dekat gerbang Rashomon.

Kammu juga membangun Hirano Jinja, kuil Shinto, tahun 794.[4]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 14 November 1910: Pertama Kalinya Pesawat Lepas Landas dari Atas Kapal

(Tribunnewswiki/Tyo)



Peristiwa Ibu Kota Jepang pindah dari Nara ke Kyoto
Tanggal 17 November 794
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved