TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemimpin Hizbullah Lebanon mengakui dirinya senang atas lengsernya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Adalah Sayyed Hassan Nasrallah yang menyebut Trump mengalami "kekalahan yang memalukan" dalam Pilpres AS 2020.
Namun, Nasrallah mendesak sekutu di tingkat regionalnya untuk waspada terhadap Amerika Serikat atau Israel di sisa masa pemerintahan Trump.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Nasrallah menggambarkan pemerintahan Trump sebagai "di antara yang terburuk, jika bukan yang terburuk" di AS.
Namun, ia percaya bahwa adanya presiden baru pun tidak akan mengubah kebijakan Washington atas Israel di Timur Tengah.
Baca: Luhut Pandjaitan Sebut Angka Perekonomian Indonesia Mulai Membaik : Kita Mulai Keluar dari Resesi
Baca: Viral Dua Remaja Wanita Berkelahi hingga Tendang Kepala, Dipicu Salah Paham di Media Sosial
Nasrallah juga menggambarkan pemilu AS sebagai parodi demokrasi dengan menuding Trump tidak punya batasan diri, sebagaimana diwartakan Reuters, Jumat (13/11/2020).
Ia mengatakan pemerintahan Trump penuh 'arogansi dan agresivitas' yang memungkinkan terjadinya konflik.
Pemimpin Hizbullah yang didukung Iran itu mengaku senang atas kekalahan Trump, yang pernah memerintahkan untuk menghabisi jenderal tertinggi Iran Qassem Soleimani.
"Dengan orang seperti Trump, segala sesuatu bisa saja terjadi pada sisa masa jabatannya ... poros perlawanan harus dalam persiapan untuk merespons dua kali lebih keras jika terjadi kebodohan lagi oleh Amerika atau Israel," kata Nasrallah, merujuk pada Hizbullah dan sekutu Iran di wilayah tersebut.
Sebagai informasi, pemerintahan Trump telah memperluas sanksi terhadap Hizbullah, yang oleh Washington dikategorikan sebagai kelompok teroris.
Baca: Boleh Terobos Lampu Merah, Inilah 7 Kendaraan yang Punya Prioritas di Jalan Raya
Baca: Permain Keturunan Belanda, Marc Klok Resmi Jadi WNI: Cinta Indonesia dan Tak Sabar Main di Timnas
AS di bawah kepemimpinan Trump turut menekan sekutu Hizbullah, yakni Iran dan meningkatkan ketegangan di tingkat regional.
'Gagalnya Demokrasi'
Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei memberikan komentar atas ramainya pemberitaan tentang Pemilihan Presiden di Amerika Serikat,
Pria yang pernah menjabat sebagai Presiden Iran pada periode 1981-1989 ini menyoroti pemilu Amerika Serikat sebagai 'pertunjukan'.
Ia menyebut bahwa Pilpres AS merupakan contoh keburukan dan bentuk kegagalan demokrasi liberal.
Melalui akun Twitternya, ia mengatakan ada kemerosotan politik, sipil, dan moral, terlepas dari apa pun hasilnya.
"Situasi di AS dan apa yang mereka katakan sebagai pemilu adalah pertunjukan/tontonan. Ini adalah contoh wajah buruk demokrasi liberal di AS. Terlepas dari hasilnya, satu hal yang jelas, (ada) kemerosotan politik, sipil, dan moral yang pasti dari rezim Amerika Serikat", kata Ali Khamenei.
Baca: Daftar 11 Provinsi yang Adakan Bebas Denda Pajak Kendaraan
Baca: Kemenangan Joe Biden Muncul di Halaman Depan Pemberitaan Surat Kabar di Eropa
Langkah Hati-Hati Meksiko
Saat sejumlah pemimpin dunia memberi ucapan selamat kepada kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, beberapa pemimpin negara lain justru lebih hati-hati.
Beberapa pemimpin negara ini ingin memberi ucapan saat setelah ada pengumuman resmi.